Selasa, 29 Desember 2009
Senin, 28 Desember 2009
Bear, I Love You.. Saranghae
“Salah siapa masukin So Eun ke asrama. Udah lah, nyantai aja mah.”So Eun langsung pergi menuju kamarnya. Dia membuka buku harian waktu SMP. Dia melihat fotonya dengan teman-teman SMP nya. So Eun menginggat kejadian selama SMP.
“Hai,bear…”ledek Sung Joon dan segerombolan teman- teman lelaki di sekolah So Eun.
“Kalian mau apa sih? Jangan berani-berani sama So Eun ya.”Sandra membela So Eun.
“Sudahlah Sandra. Tidak ada gunanya kau marah-marah dengannya. Kau sudah tau kan, bila mereka tak akan tinggal diam dengan kita.”Jun Ji Ay menenangkan Sandra.
“Apa sih yang mau dilakukan Sung Joon bodoh itu!!”Sandra kelihatan meremehkan Sung Joong.
“Apa maksudmu? Aku lelaki yang banyak di sukai wanita. Ingat jangan sekali-sekali mencari masalah dengan ku. Karena aku bisa membuat keluarga mu kehilangan pekerjaannya.”Sung Joon pergi meninggalkan mereka. Sandra hanya bisa memaki-maki dalam hati. So Eun kelihatan sedih. Setiap hari dia selalu di ejek oleh orang-orang banyak. Karena badan So Eun yang gendut. Dia sering dikatakan beruang kutub, atau semacamnya yang menghina So Eun. Sandra hanya bisa membatu So Eun di dalam sekolah. Dan mungkin bantuan Sandra tidak berpengaruh apa-apa buat So Eun.
Suatu Hari…
“So Eun, kenapa dari tadi kau senyum-senyum sendiri?”tanya Ji Ay penasaran.
“Tidak apa-apa.”So Eun tetap tersenyum.
“Wah. Sepertinya So Eun sedang jatuh cinta nih. Sama siapa? Ayuk ngaku..”Sandra mencolek pipi So Eun.
“Tidak. Kalian berbicara apa sih.”muka So Eun kelihatan merah.
“Hahaha. So Eun cepat ngaku pada ku. Siapa lelaki yang kau suka?”Sandra memaksa dan mengelitik So Eun di bantu Ji Ay.
“Baiklah aku mengaku.”akirnya Sandra menghentikan mengelitik So Eun dan kembali duduk tenang sambil mendengarkan So Eun yang baru memulai ceritanya.
“Sebenarnya aku suka dengan dia sudah sejak 1 tahun yang lalu. Namanya….”So Eun menghentikannya membuat Sandra dan Ji Ay tambah penasaran.
“Siapa?”kata mereka bersamaan.
“Hehehe. Kim Sang Bum.”So Eun menjawab dengan tersenyum.
“Huah. Kau memang pintar mencari pacar So Eun. Pilihan mu sangat tepat. Cepat kau nyatakan perasaan mu pada nya. Sebelum dia punya pacar.”Sandra menyuruh So Eun menyatakan perasaannya. Memang maksud So Eun, hari ini dia akan menyatakan perasaan kepada Kim Bum. Akirnya So Eun mencari Kim Bum dan di lihatnya Kim Bum sedang berjalan sambil membaca.
“Hai..”sapa So Eun.
“Hmm.”Kim Bum hanya berdeham.
“Boleh minta waktu sebentar?”tanya So Eun gugup. Kim Bum hanya menganguk.
“Kim…. Bu….m.. mau kah..kau..u.. men…jadi..i paca..r.. ku?”tanya So Eun terbata-bata. Sontak Kim Bum kaget dan buku yang dia pegang jatuh. Kim Bum memandang So Eun. So Eun kelihatan malu.
“Apa kau punya cukup nyali untuk menyatakan perasaan mu pada ku? Kau tak sadar kalau kau lebih mirip beruang dari pada manusia. Mana mungkin aku mau berpacaran dengan beruang seperti mu!!!!”Kim Bum menjawab ketus mengambil bukunya yang jatuh dan segera pergi meninggalkan So Eun yang menangis.
Semenjak hari itu So Eun tak mau pergi sekolah lagi. Akirnya Yoon Yoo Su mama So Eun. Mencarikan guru private atau So Eun mengalami home schooling. Selama Home Schooling So Eun mengikuti terapi menurunkan berat badannya. 1 tahun kemudian So Eun kelihatan kurus dan cantik. Banyak lelaki yang menaksirnya. Tapi tujuan So Eun mengikuti terapi penurunan berat badan hanya untuk membalaskan dendamnya pada Kim Sang Bum. Setelah So Eun kurus dia kembali masuk ke sekolah lamanya. Ternyata dia tidak mendapatkan Kim Sang Bum disana. Kim So Eun pun berubah menjadi gadis yang pembangkang,malas,tidak peduli dengan masa depannya,suka melawan, dan tidak mempunyai teman. Sandra dan Ji Ay tidak mau berteman dengan So Eun yang kasar. Akirnya So Eun dimasukan kedalam asrama putri. Tetapi guru-guru yang mengawasi So Eun sudah angkat tangan menghadapi So Eun. Akirnya mama So Eun mendapatkan panggilan terus dari asrama.
“So Eun!!!”Panggil Yoon Yoo mama So Eun menbuyarkan lamunan So Eun.
“Apa sih? Bikin kaget orang aja!”So Eun kesal dan segera megumpatkan buku hariannya.
“Mama sudah memutuskan. Bahwa besok kau bertunangan dengan anak teman mama.”
“Apaaaaa!!!! Tunangan!!!!”So Eun kesal.
“Terserah! Kalau kau tak bertunangan, kau boleh pergi dari rumah ini.”Yoon Yoo segera keluar dari kamar So Eun.
“What the!! Siapa juga yang mau tunangan?”So Eun segera mengambil kopernya, membereskan pakaiannya dan pergi meninggalkan rumahnya.
So Eun berhenti di sebuah hotel yang megah. Untuk beberapa hari kedepan dia memutuskan untuk menginap disini.
Pada saat dia ingin membayar kamar hotel, ternyata kartu ATM So Eun di block oleh Yoon Yoo mama So Eun. Akirnya So Eun keluar dari hotel dan berjalan mencari tempat tinggal. Namun dia tak mendapatkan tempat tinggal yang seperti di ingin kannya. Pilihan So Eun jatuh pada kamar sempit namun murah. So Eun segera mencari pekerjaan. Karena uangnya hanya cukup untuk 2 hari kedepan. Pada saat dia membeli makanan di restaurant kecil, dia melihat brosur.
“Di butuhkan pelayan wanita. Segera..”So Eun membacanya langsung tertarik mengikutinya.
So Eun pun segera melamar di tempat itu dan langsung di terima.
“Asikkkk… besok udah kerja deh..”So Eun melangkah pulang dengan senang.
=Ke Esokan Harinya=
Pagi hari hujan sudah membasahi seluruh kota Seoul. Tetapi So Eun tetap semangat untuk memulai bekerja.
“Selamat Pagi..”Sapa So Eun masuk ke dalam restaurant itu.
“Pagi. Hari ini kita di bantu So Eun yang akan bekerja di sini. Mari perkenalkan nama mu!”seorang wanita setengah baya yang cantik, pemilik restaurant tersebut berbicara dengan sangat lembut.
“Terima Kasih atas waktunya. Perkenalkan nama ku Kim So Eun. Kalian bisa memanggil ku So Eun. Mohon bantuannya. Terima kasih.”So Eun membungguk memberi salam. Mereka pun kembali kepada pekerjaan masing-masing, walaupun kecil restaurant ini sangat ramai. Pekerjanya juga tidak malas-malasan. So Eun merasa senang bisa bekerja di sini.
“Hai..”sapa seorang wanita cantik.
“Hai..”balas So Eun ramah.
“Kau So Eun ya? Perkenalkan nama ku Min Ji.”
“Hai Min Ji. Senang berkenalan dengan mu.”So Eun membunggukan badannya.
“Tunggu sebentar. Sepertinya aku pernah melihat mu beberapa hari yang lalu.”Min Ji kelihatan sedang menginggat.
“Hah? Yang benar? Kau melihat ku dimana?”tanya So Eun kelihatan kaget.
“Aku melihat mu turun dari mobil yang mewah. Kesalah satu pusat perbelanjaan di Seoul.”
“Oh. Panjang ceritanya. Nanti aku ceritakan sesudah pulang ya. Aku tak enak dengan pemilik restaurant ini.”
Mereka pun kembali dengan pekerjaan masing-masing.
Seorang lelaki datang terlambat karena hujan. So Eun memperhatikan wajah lelaki itu. Sepertinya dia mengenal lelaki itu. Setelah pulang kerja So Eun tak sabar menanyakan kepada Min Ji siapa lelaki itu.
“Min Ji. Bolehkah aku bertanya sesuatu pada mu?”
“Boleh. Ada apa So Eun?”mereka sedang berjalan-jalan lalu berhenti di toko es cream.
“Lelaki yang tadi datang terlamabat itu? Yang hujan-hujanan. Kau tau siapa namanya?”So Eun berbicara dengan Min Ji sambil membuka bungkus es cream yang baru saja dia beli.
“Yang kau maksud Kim Sang Bum ya? Ya jelas aku kenal donk So Eun.”
Sontak Es Cream yand di pegang So Eun jatuh dan mengenai sepatunya.
“So Eun kau kenapa?”tanya Min Ji kaget yang melihat So Eun kelihatan sangat kaget dan menjatuhan es cream.
“Kim Saa…nngggg.. Bum?”So Eun hanya bisa menyebutkan nama itu dengan terbata-bata.
“Iya. Dia sudah hampir 1 tahun terakir bekerja disini. Sebenarnya dia bekerja paruh waktu dulu. Tapi karena ada masalah akirnya dia bekerja penuh.”Min Ji menerangkan.
“Masalah apa?”tanya So Eun yang masih kelihatan kaget.
“Biar ku ceritakan. Tetapi lebih baik kita cari tempat duduk dulu.”
Setelah menemukan posisi yang pas. Min Ji mulai menerangkan.
“Jadi seperti ini. Dia sudah 3 tahun terakir tinggal sendiri.”Min Ji menarik nafas,kemudian melanjutkan “Dulu,kakak ku sangat dekat dengan keluarganya. Kim Bum itu anaknya pendiam, cuek,sangat pemboros dan yang pasti dia sering menghambur-hamuburkan uang untuk alasan yang tak penting. Beberapa kali dia sudah di ingatkan tetap saja seperti itu. Akirnya mama Kim Bum mengusir dia. Dia bekerja disini setengah hari karena masih bersekolah. Cuman sekarang dia berhenti sekolah karena kekurangan biaya. Kasian ya dia. Padahal orang tua nya itu kaya sekali loh.”
So Eun termenung medengar serita Min Ji.
“So Eun, kau kenapa? Heh?”Min Ji melihat So Eun berlari-lari kembali menuju restaurant tempat mereka bekerja. Min Ji pun merasa ada masalah yang harus di selesaikan antara mereka.
“Heh…”So Eun berlari ngos-ngosan.
“Kim Sang Bum!!!”Teriak So Eun. Kim Bum pun menoleh.
“Tunggu!!!”So Eun segera belari kearah Kim Bum yang sudah keluar dari restaurant.
“Maaf? Siapa ya?”tanya Kim Bum agak aneh.
“Hhhh.. kau tak kenal aku? Aku Kim So Eun..”So Eun berkata sambil mengelap keringatnya.
“Kim So Eun? Maaf aku tak kenal degan mu.”Kim Bum memandang aneh ke arah So Eun.
“Kau tak kenal dengan ku? Kau benar-benar jahat!!”
“Aku memang tak menggenal mu.”Kim Bum pun pergi. Dia tak menyadari buku hariannya terjatuh. Kim So Eun memunggutnya dan memasukan kedalam tasnya.
Kim So Eun pun kembali menuju rumahnya. Dia melepas jaket yang dia pakai lalu duduk di kasur kamarnya.
Dia mulai membuka diary itu.
13 Maret
Hari ini tepat ulang tahun ku. Tapi mengapa ayah dan ibu tidak ada yang datang?
Aku tak punya siapa-siapa. Selalu begini. Buku harian ini tepat di berikan pada ku sehari sebelum nenek meninggal. Nenek berpesan kepada ku untuk mengisi tiap halaman buku harian ini. Tetapi selama ini aku tak mau menulis buku harian ini. Aku takut dikira banci karena menulis di buku harian. Tetapi karena hari ini aku butuh teman curhat, aku memutus kan untuk memulai menulis buku diary ini.
Welcome them…
So Eun membalik halamannya.
31 Maret
Selalu saja seperti ini. Hari ini aku selalu ditinggal mereka sendiri. Setiap hari begitu. Aku sudah lelah akan hal ini. Mereka tak pernah mempedulikan perasaan ku. Sakit hati ku. Kesepian ku.
Mereka selalu membuat ku seperti anak terbelakang. Tidak pernah memikirkan perasaan ku! I hate my parents!
10 Mei
Hari ini aku di usir dari rumah. Setelah memancing kemarahan mereka. Aku hanya ingin mereka memperhatikan ku. Aku selalu berbuat hal-hal aneh. Supaya mereka marah, dengan marah saja dengan ku. Aku sudah cukup senang. Karena mereka memperhatikan ku.
Walau aku tak tahu harus pergi kemana setelah ini.
11 Mei
Hari ini aku sudah mendapatkan pekerjaan. Senang rasanya makan dari hasil keringat sendiri. Walau hanya mie ramen yang bisa ku makan. Tapi aku tetap suka kok bagaimana ya kabar kedua orang tua ku? Aku sudah lelah. Aku tidur dulu ya
So Eun menitihkan air mata. Dia tak menyangka, bahwa selama ini ada orang yang mencari perhatian kedua orang tuanya. Tetapi dia menyianyiakan semua itu. Dia malah sering melawan orang tuanya.
So Eun membalik halaman buku harian tersebut.
17 Juni
Aku melihat seorang wanita yang tak berbeda dari yang lain. Ramah, friendly, dan tidak membeda-bedakan status ekonomi seseorang . banyak temannya. Setiap hari dia selalu saja tertawa. Melihat senyumannya, buat ku tersenyum bahagia. Aku merasakan jatuh cinta padanya. Tapi aku tak pernah mengetahui namanya. Aku bahagia melihat senyumannya.
So Eun cepat-cepat membuka halaman selajutnya. Dia tak sabar membuka halaman itu. Dia ingin tau siapa wanita yang di cintai Kim Sang Bum.
20 Juni
Senang rasanya mengetahui nama nya. Sebenarnya bukan nama asli dia sih. Aku tak berani menanyakannya langsung. Karena dia kelihatan tak menyimpan perasaan apa-apa pada ku. Dan dia anak orang kaya. Mana mungkin dia mau berpacaran dengan orang miskin seperti ku.
30 Juni
Apa? Dia menyatakan cinta pada ku? Aku awalnya sangat kaget. Karena dia menyukai ku, menyimpan perasaan yang sama dengan ku. Aku ingin menyatakan perasaan itu lebih dahulu. Tetapi, aku tak mungkin bisa. Karena keadaan status ekonomi ku yang sekarang. Aku tak mau dia terus berharap pada ku yang tak pasti. Maaf, aku harus meledek mu seperti itu aku tak bermaksud seperti itu.seandainya kau tau bahwa aku sangat menyukai mu. Bear… I Love You. Saranghae
Apa???!!!!!!!!!!!
Kim So Eun menjatuhkan buku harian itu. Dia kaget. Apa kah benar yang dia baca barusan. Dia langsung membalikan halaman itu. Halaman berikutnya kosong. Dia merasa tak percaya dengan apa yang barusan dia baca dan lihat.
“Apa???????????!!!!!!!!!!!!!! Bear? Cuman aku satu-satunya yang sering di panggil seperti itu. Dan tanggal yang dia tulis itu? Tepat pada saat aku menyatakan cinta ku padanya. Tetapi mengapa dia tak ingat nama ku?”
“Arghhhh.. bodohnya aku. Jelas-jelas dia malu menanyakan namaku.”So Eun tersenyum bahagia berharap besok dia bisa menemui Kim Bum. Dan pertemuannya menghasil kata BAHAGIA.
=====Keesokan Paginya====
“So Eun kau kemarin kenapa lari-lari?”tanya Min Ji penasaran.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ada urusan mendadak. Oh ya, mana Kim Bum?”So Eun menengok melihat sekelilingnya.
“Oh iya. Aku lupa memberi tahu mu. Kemarin hari terakirnya bekerja disini. Dia sekarang sudah kembali kerumah orang tua nya. Sudah tidak berselisih paham seperti dulu. Oh iya, kemarin dia menelephone ku. Menanyakan apakah aku melihat buku diary nya. Takut tertinggal disini. Yah aku jawab saja tidak…”Min Ji mengambil lap hendak membersihkan meja.
“Apa? Kau tau dimana rumahnya?”tanya So Eun mendadak.
“Tidak. Kenapa?”
“Aku hanya bertanya.”So Eun merasa tidak bersemangat. Hari ini dia sudah benyak berbuat kesalahan sehingga di panggil menghadap wanita pemilik restaurant tersebut.
So Eun keluar restaurant dengan lemas. Hari ini dia di pecat. So Eun akirnya mengambil HP nya hendak menelephone mamanya.
“Hallo..”Sapa Yoon Yoo Sun mama So Eun.
“Mah..”So Eun mendesah lemah.
“Heh?”mama So Eun binggung.
“Mah ini So Eun. Mah, So Eun minta maaf. Mama mau kan maaf in So Eun?”terdengar suara desahan dari sebrang.
“So Eun. Kau mau pulang kan? Mama cuman minta 2 syarat dari mu. Pertama kau harus sekolah dan menjadi anak yang baik. Kedua kau harus bertunangan dengan lelaki yang mama jodohkan.”
So Eun menarik nafas panjang.
“Baiklah.”
“Kalau begitu kau boleh pulang sekarang. Mama tunggu.”mama So Eun menutup telephonenya.
So Eun segera membereskan pakaiannya dan menuju rumah.
Sesampainya So Eun dirumah mama nya menyambut hangat dengan Sandra dan Ji Ay. So Eun tertengun.
“Sandra? Ji ?”tanya So Eun kaget.
“So Eun…”peluk sahabat-sahabatnya.
“Kalian kenapa bisa disini?”tanya So Eun aneh.
“Sebenarnya ide supaya kamu itu bisa kembali seperti dulu, itu dari mereka.”jelas Yoon Yoo Sun mama So Eun.
“Ide? Ide apa maksudnya?”So Eun memandang mereka bergantian dan seolah di muka So Eun terdapat tanda tanya besar.
“Jadi begini. Sebenarnya mama tak mau menjodohkan mu dengan siapa-siapa. Mereka yang punya ide seperti itu. Mereka awalnya sudah tau kau ingin berubah hanya karena balas dendam dengan Kim Bum. Mereka membantu mama untuk membuat kau menyadari kesalahan mu dan berubah seperti dahulu. Mungkin bila dengan di jodohkan kau akan berubah. Dan mungkin kau akan memilih jalan kabur dan hidup sendiri. Kau tau Min Ji?”tanya Mama So Eun.
“Iya. Kenapa ma?”tanya So Eun mulai penasaran.
“Min Ji itu adik sepupuh Ji Ay yang sedang magang. Dan tak sengaja bertemu dengan mu. Makanya kami tidak cemas dengan kondisi kamu.”Mama So Eun melanjutkan.
“Tetapi kenapa tadi mama menyebutkan syarat itu? Harus mau bertunangan dengan lelaki yang mama pilihkan?”So Eun kelihatan sangat binggung.
“Oh itu. Itu ide Sandra. Biar supaya tidak bikin kamu curiga dan sangat merasa diharapkan kedatangannya.”Mama So Eun mencolek hidung So Eun.
“Hihihi. Jadi kedatangan aku tak di harapkan nih mah?”So Eun memonyongkan bibirnya.
“Bukan seperti itu. Sepertinya 4 hari di luar rumah sudah membuat anak mama bertambah manja ya. hahaha.”So Eun langsung memeluk mamanya.
“Oh iya, So Eun kami pamit dulu ya. besok kami jemput. Ingat jangan terlambat. Bye.. bye So Eun. Bye bye tante..”Sandra dan Ji Ay pamit pulang.
======Di Sekolah=====Jam Istirahat====
“So Eun. Buku apa tuh yang kau pegang? Mau lihat donk?”Sandra hendak menarik buku itu tetapi ditahan So Eun. Sehingga buku itu terjatuh ke tempat yang becek.
“Sandra!!!!”kesal So Eun. So Eun segara mengambil buku itu dan mengelap dengan bajunya.
“Maaf kan aku So Eun. Aku tak sengaja.”Sandra meminta maaf dengan tulus.
“Tidak apa-apa. Sudah, kita ke kelas yuk.”So Eun mengajak Sandra dan Ji Ay.
So Eun tak tahu bahwa dari tadi ada yang memperhatikan nya.
=====Sepulang Sekolah====
“So Eun, benar kau tak mau kami antar pulang?”tanya Sandra agak ragu.
“Tidak. Aku masih punya urusan yang harus ku selesai kan. Bye..”So Eun melambaikan tangannya, dia hendak ke restaurant ingin menitipkan buku harian yang di pegang nya sekarang. Di tengah jalan So Eun merasa di ikuti. Sampe saat So Eun membalikan badan………………………..
“Arrrrrrrrrrrrhhhh……”Jerit So Eun.
“Hey.. hey tenang. Ini aku Kim Sang Bum.”Kim Bum menutup mulut So Eun dengan tangannya.
Sesudah tenang, So Eun segera kembali dalam posisi bukan dalam dekapan Kim Bum.
“Itu? Itu bukan punya mu kan?”tunjuk Kim Bum ketangan So Eun yang memegang buku hariannya.
“Bukan. Nih. Ini punya mu. Kemarin ingin ku kembalikan. Aku senang membaca isinya. Tetapi kau begitu bodoh.”Kim So Eun memasang muka polosnya.
“Bodoh? Apa maksud mu?”Kim Bum tambah tak mengerti.
“Kenapa bukannya kau terima saja, waktu si bear menyatakan cinta pada mu? Bukankah itu bodoh namanya? Sampai dia berbuat hal aneh yang tak kau mengerti.”
“Bear? Mengapa kau tau dia? Apa hubungannya kau dengan dia?”Kim Bum tambah penasaran.
“Kalau kita berjodoh. Besok kita akan bertemu lagi. Dan saat itu kau akan tau kebenaran yang sesungguhnya.”So Eun berjalan pulang sambil tersenyum bahagia. Meninggalkan Kim Bum yang melonggok tak mengerti.
“Bodoh? Bahagia? Hal aneh yang tak kau mengerti? Berjodoh? Bertemu lagi? Kebenaran yang sesunguhnya? Aarrrgghhh… apa maksud wanita itu?”Kim Bum mulai memikir jawabannya. Tetapi dia tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
======Tepat pukul 7 pagi di sekolah=====
“Kim Bum…….”panggil Sandra.
“Apa?”Kim Bum kelihatan binggung.
“Kau mau tahu dimana bear mu kan?”terang Sandra.
“Bear? Maksudmu?”
“Cepat ikuti aku. Aku tau dia berada dimana?”Sandra menarik tangan Kim Bum. Lalu mereka berhenti di belakang sekolah.
“Hai..”sapa So Eun.
“Hai juga….”Kim Bum kelihatan binggung dengan dandanan So Eun seperti anak kecil. Di kucir dua. Lalu di kepang, pitanya berwarna warni. Tetapi dia sangat jelas meginggat dandanan siapa kah ini.
“Kau masih ingat dengan pita-pita rambut ini? Dan kata-kata kasar mu yang membuat anak perempuan yang memakai pita-pita rambut ini jadi dendam dengan mu. Berusaha membuat dia lebih dipandang sebagai seorang manusia dari pada bear.”kelihatan So Eun menitihkan air mata.
“Maaf kan aku.”Kim Bum mendekati So Eun.
“Bukan kata maaf yang ku butuhkan dari mu.”So Eun kelihatan agak kesal.
“Lalu?”tanya Kim Bum penasaran.
“Kata-kata yang terdapat di diary mu.”So Eun menerangkan.
“Yang mana?”Kim Bum sontak mengeluarkan buku harian dari tas nya.
“Kalimat terakir pada tanggal 30 Juni.”So Eun menerangkan. Kim Bum membaca sekilas dan menatap So Eun.
“Bisakah kau ulangin kalimat itu? Mendengarnya saja sudah buat ku bahagia. Walaupun mungkin perasaan mu tidak sama seperti dahulu.”So Eun meneteskan air mata.
“Perasaan ku dari dahulu sampai sekarang sama. Kalau aku tak suka dengan mu, buat apa aku mencari mu selama ini.”Kim Bum melanjutkan dengan tersenyum menatap So Eun.
“Hmmm? Maksud mu?”So Eun melanjutkan.
“Semenjak kau pergi dari sekolah, aku selalu mencari mu. Aku ingin bertanya kepada teman-teman mu. Cuman aku segan. Aku hanya bisa menunggu sepulang sekolah. Tetapi aku tak mendapatkan hasil apa-apa. Aku menyukai mu bukan karena kau anak orang kaya. Aku menyukai sifat mu yang ramah, friendly, dan mudah bergaul dengan siapa saja. sekarang aku berkata seperti ini bukan karena tubuhmu yang langsing. Aku mencintai apa ada nya diri mu. Sebelum kau menyatakan cinta mu pada ku. Aku sudah mencintai mu.”Kim Bum berhenti menjelaskan lalu menatap So Eun. So Eun berlari mengejar Kim Bum dan memeluknya. Sesaat mereka berciuman di tengah mata hari terbit. Kim Bum melepaskan pelukan So Eun dan melanjutkan. Membisikan di telinga So Eun.
“Bear.. I Love You… Saranghae…”Kim Bum kembali mencium kening So Eun.
Sabtu, 19 Desember 2009
- JoonEunBum - Part.6
Annyeonghaseyo chingu.
Maaf ya agak lama post nya. Tadi nya sih gak mau hari ini post nya. Mendadak otak saya mandeg. Tapi karena udah semangat ngetik. Jadi deh hari ini.Hehehehe.
Agak panjang juga nih.
Oh ya ada cameo baru nih..
Siapa yaaa?
Tereeeeeeeeengggg…
Lee Min Jung
Sahabat SMA Min Ho dan Kim Bum. Yang sering di ledekin sama Min Ho dan Kim Bum. Diledekin apa sih? Langsung aja baca Part nih. Let’s cekidot^^
“So Eun!!! Tunggu aku.. So Eun…”Kim Joon mengejar So Eun yang sudah pergi dengan mobilnya.
Pemandangan yang tak seharusnya dilihat oleh So Eun. Kim Joon berciuman dengan Gook Yi Jun.
Kebetulan saat So Eun datang acara pemotretan sudah selesai. Jadi tak ada yang melihat kejadian barusan. Tetapi…………
“Bum, hey. Kau mau kemana? Hey!!!”panggil Min Ho khawatir.
Kim Bum melaju cepat dengan mobilnya.
Min Ho yang mau ikut menyusul tiba-tiba mendapatkan telephone dari pemilik tempat lokasi yang mereka pakai.
So Eun terus menangis didalam mobil.
“Oppa, kau sungguh keterlaluan!!! Aku sangat membenci mu!!!”So Eun terus menangis dan mengemudi tidak terkontrol.
So Eun pun tak sadar di belakang ada mobil yang mengikutinya..
So Eun pun pergi tak tau kemana. Dia hanya bisa berputar-putar disekitar pulau Jeju. Dan akirnya dia berhenti dipantai. So Eun berteriak sekencang-kencangnya.
“Kau!!!! Oppa Kim Joon!!!!!!!!!! Kenapa kau begitu jahat pada ku? Apa salah ku?!!! Hah? Apa!!!!!! Aku sudah percaya kepada mu. Tapi kau………….. kau jahat kepada ku.. hikxxx.. hikxxx…”So Eun menangis dengan kencang, sampai suara tangisannya terasa serak.
“Salahmu adalah kau begitu bodoh!!!!!”
“Hah?”So Eun menegok ke belakang. “Siapa kau?”tanya So Eun.
“Kenalkan aku Kim Bum. Apa gunanya kau berteriak-teriak dipantai seperti orang bodoh? Memangnya pantai bisa memberikan solusi untukmu? Kau bertanya apa salah mu? Dan ku jawab kau begitu bodoh!!!”kata Kim Bum dengan suara agak keras.
“Apa maksudmu? Bodoh?”tanya So Eun tak mengerti.
“Iya. Untuk apa kau berikan kepercayaan kepada orang yang tak pantas untuk dipercayai? Itu tandanya kau bodoh!!!”
“Kenapa kau menyalahkan ku? Memangnya kau tau permasalahan ku? Hah? Memangnya kau siapa berhak berkata kalau aku bodoh?”So Eun mulai kesal.
“Kau tau. Aku juga pernah merasakan sakitnya menyesali perbuatan sendiri? Sama seperti mu. Bedanya disaat itu aku tak mengerti apa yang kulakukan.”
“Apa maksudnya? Aku tetap tidak mengerti?”tanya So Eun mulai binggung.
“Dan kau sudah mengerti, apa yang kau lakukan. Kau dapat membedakan mana yang baik buat jalan hidupmu. Dan menentukannya sesuai dengan maumu.”Kim Bum berjalan mendekati So Eun.
“Aku tahu aku bodoh. Aku tau itu. Tapi mengapa semua orang di dunia ini seakan pergi jauh meninggalkan ku? Hah? Tuhan tak adil padaku. Semua cobaan itu ku terima tiada henti-hentinya.”So Eun menangis terisak.
“Kau jangan menyalahkan Tuhan. Kau harus belajar mengkoreksi diri.”
“Tapi……..”So Eun jatuh terselungkup menangis.
Kim Bum hanya bisa menenangkannya, memeluk So Eun dan membelai rambut So Eun. Kim Bum merasakan sensasi yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Dia merasa sakit berada di dekat So Eun merasa sesak, merasa menyesal. Tapi dia tidak mengerti maksud semuanya. Dia merasa sangat rindu, sangat nyaman berada didekat So Eun. Kim Bum menghela nafas, dan menenagkan So Eun yang masih nagis terisak-isak.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
“Kau mau ku antar pulang?”tanya Kim Bum pada So Eun yang masih kelihatan lemah.
“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”kata So Eun yang masih kelihatan lemah.
“Memang rumah mu dimana?”
“Didekat sini.”So Eun menjawab halus.
“Rumahmu dipulau Jeju?”tanya Kim Bum agak binggung.
“Aku punya rumah disini. Aku pulang dulu. Terima kasih buat kata-katamu barusan.”
So Eun langsung tancap gas meninggalkan Kim Bum.
Kim Bum takut terjadi apa-apa dengan So Eun. Dia pun mengikuti So Eun. Beberapa kali mobil So Eun mau menabrak pohon. Tapi So Eun langsung sadar. Kim Bum yang dari belakangnya mengikuti So Eun, panic tak menentu. Akirnya So Eun sampai kerumahnya yang ada di pulau Jeju. Sesampainya So Eun dikamar, dia menangis. Dia merasa benar-benar mati. Dunianya yang dulu hilang. Dan berganti dengan dunia yang sangat tidak dia harapkan. Dunia yang sangat di benci. Dunia yang pergi meninggalkannya hanya sendiri.
“Lebih baik aku mati, tak ada gunanya aku tetap hidup didunia ini.”So Eun pun mencari pisau lipat di laci kamarnya.
“Pah, Mah. Tunggu So Eun ya. So Eun akan datang buat kalian……hikxxx… hikxxxx….”tangis So Eun. So Eun menempelkan pisau ke urat nadinya. Dannnnnn………….
“So Eun!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Jangan lakukan itu!!!”teriak Donghae.
“Untuk apa oppa peduli dengan ku? Aku sudah tidak diharapkan di dunia ini. Aku mau menyusul mama sama papa.”kata So Eun yang ingin membeset urat nadinya, tetapi di tahan oleh Donghae.
“Kau jangan aneh-aneh Kim So Eun.”Donghae melempar pisau yang dipengang So Eun.
“Apa hak mu melarang ku? Memangnya kau siapa? Aku benar-benar membenci mu!!!”So Eun berkata kasar kepada Donghae.
“Kau!!!!!!!!!!!!!!”Donghae menganggak tangannya hendak menampar So Eun. Tapi dia sadar dan menjatuhkan tangannya.
“Kau mau menaparku? Silahkan! Aku tak peduli.”So Eun berlari keluar dan segera tancap gas pergi meninggalkan Donghae.
So Eun kembali kerumahnya yang berada di Seoul. Dia menangis dikamar. Membanting semua barang-barangnya. So Eun menangis tiada henti.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
Tok… tok.. tok…donghae mengetuk pintu kamar So Eun.
“So Eun…”Donghae memanggil So Eun halus.
Tidak terdengar suara apa pun dari kamar. Donghae panic lalu membuka pintu. Dia menghela nafas lega. Dilihatnya So Eun yang duduk menghadap ke jendela. Tatapannya begitu kosong.
“So Eun, ayuk kita pergi jalan-jalan. Hari ini sengaja oppa minta ijin, untuk menemani kamu..”
So Eun tetap diam dan tidak memberikan respon apa-apa. Seperti patung.
“So Eun…”Donghae menguncangkan tubuh So Eun..
“So Eun………..”Donghae memegang bahu So Eun. Tetap sama, tidak ada respon dari So Eun. So Eun seperti sedang tidur. Jiwanya tidak berada dalam tubuhnya.
Donghae mengira bahwa So Eun sedang tidak ingin berbicara dengannya. Donghae pun keluar dari kamar So Eun..
Buk…Bukk…Bukk….Bukk..
“So Eun!!!!!”pangil Donghae keras dan segera berlari kekamar So Eun. Dilihatnya adik semata wayangnya menjetotkan kepalanya ke tembok. Dan darahnya berserakan dimana-mana. Donghae berlari kearah So Eun dan memandangnya. Tatap So Eun tetap kosong. Donghae segera menelpone dokter keluarga mereka. 30 menit kemudian dokter itu datang dan memeriksa So Eun.
“Gimana keadaan adik saya dok?”tanya Donghae panic.
“Luka di kepalanya tidak terlalu parah. Cuman…”
“Cuman apa dok? Hah?”tanya Donghae menguncang-guncangkan tubuh dokter.
“Dia harus segera kamu periksakan ke psikiater.”Dokter itu tertunduk.
“Apa??????? Psikiater? Memang adik saya gila apa dok? Adik saya baik-baik saja!!”mata Donghae terlihat basah.
“Tatapan dia kelihatan aneh. Kau harus segera memeriksakan dia. Ada yang tak beres dengannya.”Dokter itu pun pergi meninggalkan Donghae yang masih menatap lemas So Eun.
===1 jam kemudiann===
“Dokter, bagaimana keadaan adik saya?”tanya Donghae lemas.
“Dari hasil pemeriksaan barusan. Maaf, adik anda mengalami depresi yang cukup parah. Sehingga menyebabkan dia tidak mau bersatu atau kembali dengan dunia ini. Apa sebelumnya dia pernah mencoba sesuatu hal yang sangat berbahaya??”tanya dokter Kang.
“Hmmm. Dia pernah mencoba bunuh diri. Tetapi tidak berhasil. Dan luka dikepalanya akibat dia menjedot-jedotkan kepalanya ke dinding.”kata Donghae lemas.
“Itu sangat berbahaya. Dia ingin sekali berpisah dari dunia ini, meninggalkan dunia ini. Tetapi digagalkan. Sehingga membuat jiwanyalah yang pergi dari tubuhnya. Memisahkan diri sendiri. Dan tidak ingin kembali lagi.”dokter Kang menjelaskannya.
“Tapi dok. Apa kita bisa mengembalikan jiwanya kembali?”tanya Donghae semakin lesu.
“Mungkin bisa. Tapi kemungkinan itu sangat sedikit. Bisa dibilang cuman 15%.”
“Bagaimana caranya?”
“Dia harus menerima perawatan yang lebih teratur. Dan mencoba menghilangkan memory yang jelek, menginggatkan memory yang baik. Hanya itu yang bisa membuat dia berangsur-angsur pulih.”
“Perawatan yang lebih teratur? Tapi aku tidak bisa menjaganya setiap hari.”kata Donghae lesu.
“Itu lah alasan mengapa adanya rumah sakit jiwa ini.”Dokter Kang memandang Donghae yang kelihatan pucat.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
Pilihan terakir Donghae adalah memasukan Kim So Eun kerumah sakit jiwa. Karena pekerjaannya sekarang, dia tak bisa menjaga So Eun setiap hari. Donghae pun juga kenangan terburuk So Eun yang ingin dilupakan. Donghae menghela nafas panjang. Dia pun pergi ke Café Miyosto(café khusus orang-orang dewasa, yang menjual bir dan minuman alcohol lainnya).
Donghae minum tiada henti-hentinya.
“Maaf pak. Tapi bapak sudah meminum hampir sepuluh botol.”pelayan café itu menegur Donghae dengan halus.
“Sudah!!! Cepat berikan aku 1 botol lagi!!! Atau kau tak ku bayar!!”Donghae mengancam pelayan itu. Akirnya pelayan itu memberikan Donghae alcohol. Donghae tak sadarkan diri karena mabuk.
“1 Lemon tea ya.”seorang wanita memesan minuman kepada pelayan.
Wanita itu melihat kearah Donghae.
“Donghae….”panggil Min Ji.
“Heh?”Donghae menoleh lalu tergeletak di meja café.
“Pesanan saya tolong di batalkan ya. Berapa tagihan lelaki ini?”tanya Min Ji pada pelayan tadi. Pelayan tadi pun menyebutkan nominalnya. Min Ji pun segera membayar tagihan itu, dan membopong Donghae menuju mobilnya. Min Ji pun segera mengantarkan Donghae pulang. Sesampainya dirumah Donghae tidak ada orang. Bisa di bilang tidak ada kehidupan di dalam nya.
Ting.. Tong… Ting… Tong..
“Kemana semua orang di rumah ini? Arghhh….”Min Ji yang masih membopong Donghae merasa kesal, karena tidak menemui satu orang pun di rumahnya.
“Donghae….”pangil Pak Woo yang kebetulan ingin memeriksa keadaan Donghae.
Min Ji menoleh.
“Pak, apakah tidak ada orang dirumah ini?”tanya Min Ji halus.
“Oh.. itu, sedang pergi semua.”Pak Woo membantu Min Ji membopong Donghae yang kelihatan sangat berat. Mereka pun segera masuk ke dalam rumah.
“Pak, saya pamit dulu ya.”Min Ji pun segera meninggalkan rumah Donghae dan kembali pulang kerumahnya. Min Ji pun mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya. Waktu sudah menunjukan tengah malam.
“Min Ji, sedang apa kau?”tanya Kim Bum yang ternyata sudah menunggu Min Ji.
“Eh, ada oppa Kim Bum. Hehehe. Aku sedang latihan acting buat drama musical di kampus. Memang ada apa oppa?”tanya Min Ji tegang.
“Latihan drama musical? Dan kau baru pulang jam segini. Kau jangan membohongi ku Min Ji.”Kim Bum kelihatan marah.
“Benar oppa. Aku baru pulang dari…. Latihan…. Iia… latihan… drama musical….. masa oppa gak percaya sih sama Min Ji.”kata Min Ji terbata-bata. Kim Bum mendekat.
“Kau jangan sekali-sekali membohongi ku Min Ji. Kenapa tubuhmu bau alcohol? Hah?”Kim Bum kelihatan marah.
“Itu. Itu. Itu.. tadi.. tadi… aku… a…k…”
“Hah? Kenapa?”muka Kim Bum terlihat merah.
“Aku.. barusan..”Min Ji menginggat kejadian di café tadi. Dia tidak mungkin menceritakan tentang Donghae.
“Cepat naik ke atas. Kau dihukum, tidak boleh keluar kecuali kuliah. Selama 1 minggu!!!!”Min Ji pun menuruti Kim Bum dan segera naik ke kamarnya.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
-1 Bulan kemudian-
“Bum, kau datang ke acara Reuni kita?”tanya Min Ho.
“Maaf Min Ho, aku tak bisa. Kau saja lah yang pergi kesana.”Kim Bum menjawab lemas.
“Mengapa? Apa karena wanita yang bernama Kim So Eun itu?”Kim Bum memang sudah menceritakan kepada Min Ho tentang So Eun. Begitu juga rumah So Eun yang berada di pulau Jeju. Tetapi Kim Bum tidak pernah melihat ada orang yang datang ke rumah itu selama 1 bulan terakir ini.
“Hmm.. aku ingin tau bagaimana keadaannya?”Kim Bum menganguk lemas.
“Sudah lah Bum, kau tak udah memikirkannya. Lagi pula, belum tentu So Eun memikirkan mu kan.”Min Ho membuat Kim Bum kelihatan putus asa.
“Benar kata mu Min Ho.”Kim Bum pun mengambil air di dapur rumahnya.
“Jadi bagaimana? Kau mau ikut tidak ke acara reuni itu? Siapa tau kau bisa bertemu wanita yang lebih cantik dari Kim So Eun.”Min Ho berkata genit.
“Baiklah. Aku hanya menemani mu saja ya.”kata Kim Bum.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
“So Eun, bagaimana keadaan mu?”hari ini tepat sebulan Kim So Eun masuk RSJ Seoul. Tetapi baru hari ini Donghae punya kesempataan untuk menjengguk So Eun setelah pulang dari Jepang kemarin.
So Eun tidak berbicara apa pun, dan tatapannya begitu kosong.
“So Eun…..”Donghae menangis terisak.
“Erhhh… Erhhhhh…”So Eun mengerang.
“So Eun….”Panggil Donghae agak kaget.
“Aku mau mati!!!!! Mau mati!!!! Pergi kalian semua!! Aku benci kalian!!!”So Eun mau menggigit urat nadinya sendiri. Tetapi ditahan oleh Donghae.
“Suster!!!! Dokter!!!!”Donghae berteriak sangat kencang sambil menahan tangan So Eun.
“Auwwwwwwww……”Donghae mengaduh kesakitan, tangannya di gigit oleh So Eun.
Tak lama dokter dan suster datang dan memberikan obat penenang buat So Eun. Donghae memandang sedih kearah So Eun. Sekarang tangan dan kaki So Eun diikat oleh kain. Supaya tidak menyakiti orang lain.
“Donghae, boleh kah kita berbicara sebentar?”tanya Dokter Kang yang menangani So Eun.
Donghae pun berjalan mengikuti dokter Kang.
“Ada apa dok?”tanya Donghae agak lemas.
“Beberapa hari ini kondisi So Eun memburuk. Dia sering beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Kemarin saya berbicara dengan pak Woo. Cuman kata Pak Woo kau sedang berada di Jepang.”Dokter Kang menjelaskan dengan raut muka serius.
“Benar dok. Maaf kan saya.”
“Tidak apa-apa. Lebih baik kalian jangan bertemu dahulu ya. Kondisinya memburuk melihat mu.”dokter Kang menjelaskan dengan hati-hati. Donghae pun mengangguk dan pergi meninggalkan RSJ Seoul.
===Reuni SMA===
“Hai, Kim Bum….”sapa seorang wanita cantik yang berjalan kearah Kim Bum.
“Lee Min Jung?”sapa Kim Bum agak kaget.
“Iya..”mereka pun berpelukan.
“Sudah lama sekali kita tidak bertemu Min Jung. Bagaimana kabarmu? Kau berubah banyak. Rambut mu mengapa sekarang pendek?”tanya Kim Bum berturut-turut.
“Heh. Iya, aku baik-baik saja. Rambutku bagus kan seperti ini. Oh ya, mana Min Ho.”Min Jung menlihat sekelilingnya.
“Tadi dia ingin ke kamar mandi. Aku tak tau di mana. Oh ya Min Jung. Dari tadi aku tidak melihat pacar mu?”tanya Min Ho penasaran.
“Pacar ku? Siapa? Jangan-jangan. Yang kau maksud…”
“Hahahahahaha..”Kim Bum hanya tertawa.
“Sudah deh jangan meledek aku terus. Aku mau liat saudara ku ya. Bye.. Bye..”Min Jung pun pergi meninggalkan Kim Bum sendiri.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
“Hai…”sapa Min Ho pada sekerumun wanita-wanita yang berada di sekitarnya.
Mereka hanya tersenyum masam melihat Min Ho yang sedang tebar pesona.
Min Ho berjalan mundur sambil memegang gelas berisi sirup. Waktu Min Ho berbalik.
GYUURRRRRRRRRRR…
“Arggghhh…”teriak seorang wanita cantik yang mngenakan pakaian berwarna putih panjang.
“Maaf…”Min Ho memandang baju wanita itu yang sekarang menjadi warna merah akibar ulah nya.
“Kau!!!!!”kata mereka bersamaan.
“Apa sih mau mu? Selalu saja merusak semuanya. Pertama merusak laptop ku, sekarang membuat baju ku kotor.”wanita itu pun berbalik arah tanpa di sadari Min Ho, karena seseorang memanggilnya.
“Haaaaaaaaaaiiii. Min Ho…”teriak Min Jung.
Min Ho menoleh kaget dan melihat Mih Ho. Begitu juga dengan wanita tadi.
“Min Jung???”Min Ho tak kalah kaget.
“Kau sudah lama di sini?”tanya Min Jung menatap Min Ho.
“Oh, sudah. Kau sendiri?”tanya Min Ho.
“Lumayan lah.”Min Jung melihat Min Ho yang ke panic an seperti mencari sesuatu yang hilang.
“Ada apa sih Min Ho?”tanya Min Jung penasaran sambil mengikuti pandangan Min Ho.
“Oh tidak. Min Jung kau kesini dengan siapa? Mana pacar mu?”tanya Min Ho.
“Aku bersama saudara ku. Pacar ku? Mengapa sejak tadi kau dan Kim Bum menanyakan ‘mana pacar mu?’ memangnya aku sudah punya pacar apa? Huh…”
“Hahaha. Memangnya bagaimana nasib kalian setelah lulus ?”tanya Min Ho agak penasaran.
“Nasib apanya? Sudah deh. Aku mau mencari saudara ku dulu ya. Bye Min Ho.”Min Jung pun meninggalkan Min Ho yang masih mencari wanita yang tadi dia tabrak.
+_+_+_+_+_
=2 Bulan kemudian=
“Min Ho, hari ini aku mau ke RSJ Seoul.”Kim Bum menelephone Min Ho.
“Oh, ya sudah. Jam berapa kau pulang?”
“Aku tidak tahu. Sudah dulu ya.”Kim Bum menutup sambungan telephone nya dan mengambil saxophone lalu memasukan ke dalam mobil.
Hari ini Kim Bum pergi sendiri karena Min Ji tidak bisa datang. Biasanya memang Kim Bum setiap sebulan sekali selalu melakukan ini. Walaupun tak tau akan berhasil atau tidak. Tapi terapi ini sering dia lakukan. Menginggat mamanya sangat menyukai suara saxophone.
Sesampainya Kim Bum disana.
Ternyata mamanya berada di taman.
Kim Bum pun menuju taman itu dan megeluarkan saxophone dari kotaknya.
“Hai Mah. Apa kabar?”Kim Bum mencium kening mama nya.
Tatapan mama Kim Bum tetap kosong.
“Kim Bum mainin lagu kesukaan mama ya.”Kim Bum memain kan saxsophone nya.
Lagu Don’t Walk Away terdengar sangat bagus di mainkan oleh Kim Bum.
Lagu Don’t Walk Away memang tidak seperti lagu mellow lainnya. Mama Kim Bum sangat menggemari Rick Springfield penyanyinya yang in di tahun 80 an.
Kim Bum melihat mama nya yang masih menatap kosong tanaman yang berada di dekat taman.
Kim Bum pun kembali memainkan lagu First Love. Lagu yang sebenarnya tidak ingin dia mainkan dari dulu. Tetapi ada sesuatu yang kuat, yang medorongnya untuk memainkan lagu itu.
Setelah selesai terlihat jelas air mata Kim Bum.
“Arrrrghhhh…. Arrrgghhhh…”terdengar suara jeritan yang sangat keras dari belakang pohon.
Kim Bum segera melihat kearah pohon itu. Tetapi sudah banyak dokter dan suster yang membantu orang itu.
Kim Bum pun tetap terfocus pada mama nya.
Terlihat cuaca yang mendung. Kim Bum pun memapah mamanya ke kamar. Sesampainya di sana mama nya duduk dan memandang Kim Bum. Seolah mengerti Kim Bum mengambil saxophone dan mengulangi alunan lagu First Love. Batin Kim Bum tidak mengerti mengapa dia ingin memainkan lagu itu kembali. Setelah selesai sekarang terdengar jeritan kembali dari kamar sebelah. Kim Bum yang penasaran langsung berlari menuju kamar sebelah. Dan dia tak menyangka bahwa………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Orang selama ini dia cari berada tepat sebelah kamar mamanya di RSJ Seoul.
“So Eun……”panggil Kim Bum kaget saxophone yang dia pegang jatuh.
Gimana? Maaf ya kalau cerita Soeulnya belum banyak.
Kenapa ya Kim So Eun teriak-teriak denger suara saxophonenya Kim Bum?
Terus kenapa juga Kim Bum awalnya gak mau mainin Saxophone? Sebenarnya ada apa ya?
Cewek yang ditabrak Min Ho siapa sih? Kok belum dikasih tau.
Pacarnya Min Jung yang di maksud Kim Bum dan Lee Min Ho maksudnya siapa?
Saksikan next partnya.
Di tunggu commentnya^^
Makasih udah mau baca^^
Rabu, 09 Desember 2009
- JoonEunBum - Part.5
Annyeonghaseyo chingu..
Sekali lagi maaf ya, Part.5 nya aku post agak lama. Hehehe. Baru selesai ulangan sih.
Mian juga chingu..
Part.5 nya agak panjang.. hehehehe. Habis pada minta lebih panjang sih.
Ya udah langsung aja ya. Let’s cheekidot.
“Min Ji kau ingin pesan makanan apa?”tanya Donghae.
Tetapi belum saja Min Ji menjawab langsung dipotong oleh Donghae.
“Kepiting kan?”tanya Donghae merasa tebakannya akan benar lagi.
“Hah? Kenapa kau tau kalau aku suka kepiting?”tanya Min Ji kaget.
“Hanya menebak.”kata Donghae tetap santai. Lalu memesan makanan kepada pelayan restaurant. Sesudah pelayan itu pergi Min Ji melanjutkan tanpa basa-basi.
“Kau? Darimana kau tau semua kesukaan ku?”tanya Min Ji dengan suara meninggi.
“Aku hanya menebak.”jawab Donghae tetap santai.
“Aku tidak percaya. Kau pasti berbohong. Ceritakan semuanya sekarang, atau aku akan pergi dari sini!!!!”Min Ji mulai kesal.
“Hey, jangan seperti itu. Baiklah aku mengaku….”kata Donghae tertunduk.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
“Min Ho, mukamu kenapa?”tanya Kim Bum dengan suara menahan tawa.
“Aku tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita pulang sekarang.”Min Ho mengambil kunci mobil yang terletak di meja. Kim Bum pun segera membayar lalu mengikuti Min Ho yang sudah berada di parkiran mobil café amour. Di mobil Min Ho masih memikirkan gadis yang tadi dia temui di café amour. Setelah hening dengan pikiran masing-masing, Kim Bum memulai pembicaraan.
“Min Ho, kapan aku harus memotret model-model yang kau bilang tadi?”
“Hem?”Min Ho kaget.
Kim Bum mengulang pertanyaannya.
“Oh itu. Lusa. Sebenarnya sih besok, cuman di undur. Karena salah satu model sedang berduka.”Min Ho melanjutkan. Kim Bum mengangguk-angguk.
“Min Ho, kau tau gadis yang kukira adik ku tadi?”
“Hmm. Iya. Kenapa?”
“Aku merasa mukanya sangat familiar. Tapi aku tak kenal dengannya.”
“Mungkin perasaan mu saja kali, karena dia mirip dengan Min Ji.”Min Ho menjawab.
“Mungkin.”Kim Bum menghela nafas panjang.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
“So Eun, makanlah. Kau jangan begini terus.”Kim Joon memohon kepada So Eun.
“Oppa, gimana ya keadaan papa sama mama?”So Eun menatap kedepan, tatapan kosong.
“Mereka sudah tenang disana So Eun.”Kim Joon memandang So Eun iba.
“Seandainya saja aku gak maksain mereka untuk liburan ke Perth. Mungkin mereka masih didunia ini. Semua salah So Eun!!!!!”So Eun menangis terisak.
“So Eun, tak ada yang bisa menambah atau mengurangi umur seseorang selain Tuhan. Itu bukan salah kamu.”Kim Joon memeluk So Eun. So Eun menangis terisak di pelukan Kim Joon.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
“Jadi?”tanya Min Ji.
“Sebenarnya, sudah beberapa bulan yang lalu… aku melihatmu sering pergi kesini dengan seorang cowok. Dan kau selalu memesan kepiting. Lalu memakannya dengan semangat. Seminggu yang lalu aku melihatmu datang kesini hanya sendiri, dan menangis. Aku mengira kau sudah putus dengan pacarmu. Dan tak ku sangka kita bertemu di pantai tadi.”Donghae menjawab malu.
“Hah? Pacarku? Siapa?”tanya Min Ji kaget.
“Masa kau tidak ingat pacar sendiri.”
“Jangan-jangan yang kau maksud Oppa Kim Bum?”Min Ji menahan senyum.
“Oppa?”Donghae berkata binggung.
“Iya. Aku sering kesini dengan Oppa ku. Namanya Kim Bum. Aku belum pernah punya pacar.”jawab Min Ji.
“Oh.. jadi yang itu Oppa mu toh? Hah? Masa kau belum pernah pacaran?”
“Hmm. Belum pernah. Dan satu lagi, aku tak mungkin menangis di depan umum hanya karena seorang cowok!!!!”kata Min Ji..
“Lalu siapa yang kau tangisi kemarin? Kalau bukan cowok?”tanya Donghae penasaran.
“Mama ku. Sudahlah kenapa jadi membahas tentang diriku. Kau sendiri, mengapa kau memperhatikanku, memangnya ada yang salah dengan aku ya?”Min Ji melihat tubuhnya, dan memegang wajahnya.
“Ohw. Itu, oh. Tidak, tidak ada. Hmmm.”Donghae jadi salah tingkah. Donghae menghela nafas lega. Pelayan datang membawakan pesanan mereka tadi.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
“Min Ho kau tak masuk dulu kedalam?”tanya Kim Bum.
“Oh. Tak usah Kim Bum. Sudah malam, aku langsung pulang saja. Aku juga sudah capek. Sudah ya. Bye2..”Min Ho pun melaju cepat dengan mobilnya.
Beepppp… Beepppp…
“Suara apa itu?”Min Ho bertanya sendiri.
Ternyata saku bajunya bergetar.
“Hallo….”terdengar suara cowok dari sebrang.
“Hallo…”balas Min Ho.
“Tolong sampaikan pada Noona, naskah yang kemarin dia tulis bawa kesini. Dan jangan sampai terlambat. Sebelum jam 10 pagi. Terima kasih.”
Telephone ditutup.
Jadi wanita tadi penulis toh. Batin Min Ho.
Terdengar lagi getaran Hp.
“Hallo….”jawab seseorang wanita dari seberang dengan suara marah.
“Hallo..”jawab Min Ho santai.
“Kau siapa? Cepat kembalikan Hp ku sekarang!!!”
“Kenalkan aku Min Ho. Lee Min Ho. Kembalikan Hp mu? Mengapa aku harus mengembalikan Hp mu. Salah sendiri ditinggal di café.”
“Oh. Jadi kau lelaki pemabok yang membuat laptop ku di servis dan naskah-naskah ku rusak.. cepat lembalikan Hp ku, sebelum kau ku cincang jadi daging.”
“Coba saja kalau kau berani.”Min Ho masih menjawab santai.
“Kau!!!! Cepat kembalikan Hp ku.. atau…………..”
“Atau apa? Kau melapor kepada polisi? Memang polisi mau meladenin perempuan yang gak punya etika kayak kau?”
“Kau tak usah banyak omong. Besok di café amor aku tunggu jam 9.30 pagi. Jangan terlambat sedetik pun.”Telepone ditutup kasar.
Min Ho hanya tersenyum puas.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
“So Eun, aku pulang dulu ya. Tiga hari kedepan aku tak bisa kesini. Aku ada pemotretan.”
“Baik. Hati-hati dijalan ya Oppa. Bye2.”
Kim Joon menyium kening So Eun, lalu pergi meninggalkan rumah So Eun. So Eun masuk ke kamar dan menangis disana. Menyesali semua yang telah terjadi. Dia sudah mencoba untuk tegar. Tetapi tak bisa. So Eun melamun membayangkan kejadian itu. Begitu cepat, begitu sadis, dan begitu meninggalkan luka yang sangat dalam dan susah untuk disembuhkan. So Eun menigat-ingat kembali wajah kedua orang tuanya. So Eun memeluk bingkai foto keluarganya dan tertidur.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
“Min Ji, bolehkah aku minta nomor telephone mu?”tanya Donghae.
“Tidak.”Min Ji menggeleng.
“Oh. Ya sudah, tak apa. Aku pulang dulu ya. Hati-hati di jalan.”Donghae berjalan meninggalkan Min Ji.
“Heh?”baru saja Min Ji memanggil Donghae sudah jauh berada didepannya.
Min Ji pun segera pulang. Donghae tidak mau merepotkan Min Ji bila harus mengantarnya pulang. Lagi pula dia juga tidak ingin So Eun mengira yang tidak-tidak. Donghae pun merenung di taxi. Dia segera menelephone teman bandnya, untuk berkumpul di studio mereka. Dalam 1 jam mereka sudah berkumpul di studio.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Kesekoan paginya…
Kim Bum sedang memeriksa kameranya. Min Ho yang sudah datang dari 2 jam yang lalu menunggu di ruang tamu sambil memakan roti yang dia beli di dekat rumah Kim Bum.
“Bum, apakah masih lama?”tanya Min Ho.
“Sabarlah. Sebentar lagi. Lagi pula kau tau, mana mungkin ada model yang datang on time. Selalu saja kita yang harus menunggu mereka. Lagi pula pemotretannya dimulai 1 jam lagi.”Kim Bum masih mengelap lensa cameranya.
“Iya, tapi aku sudah bosan. Min Ji kemana Bum?”tanya Min Ho pada Kim Bum.
“Aku disini oppa Min Ho. Ada apa? Kangen denganku ya?”tanya Min Ji bercanda.
“Tidak. Jangan bercanda kau. Hehehehe..”Min Ho bercanda.
“Huh. Dasar oppa Min Ho. Oppa Kim Bum, aku pergi dulu ya.”Min Ji pun segera pergi.
“Bum, dari kemarin Min Ji pergi terus. Kemana sih?”tanya Min Ho seolah ingin tau.
“Mana ku tau. Sudah selesai nih, ayuk pergi.”Kim Bum pun mengambil alat-alat buat pemotretan. Dan mereka pun pergi menuju tempat pemotretan.
“Bum, jam berapa sekarang?”tanya Min Ho.
“Jam 9.45 , kenapa?”tanya Kim Bum.
“Tidak.”
Min Ho merasa saku nya bergetar. Dilihatnya, ternyata ada panggilan masuk. Segera diangkatnya.
“Hallo..”
“Hey, kau dimana? Aku sudah menunggu lama disini. Cepat kembalikan Hp ku!!!”terdengar suara dari sebrang.
“Hah? Aku lupa. 1 jam lagi aku akan datang. Oke. Tunggu disana ya.”Min Ho segera menutup sambungan telephone dan mencopot baterainya.
“Siapa?”tanya Kim Bum.
“Wanita yang kemarin di café amour. Kau ingat?”tanya Min Ho.
“Tentu saja. Memang kalian berkenalan ya? Mengapa dia bisa tau nomor Hp mu?”tanya Kim Bum.
“Berkenalan? Mana mungkin aku mau berkenalan sama dia. Hp nya tertinggal. Jadi aku disuruh kembalikan ditempat kemarin. Kau tau, aku dibilang cowok pemabuk olehnya. Hanya karena aku memegang dua botol soju.”Min Ho memasang raut wajah kesal.
“Hahahahahaha. Sudahlah Min Ho, kau terima nasib saja. Untung kau cuman dibilang cowok pemabuk. Kalau dibilang orang gila bagaimana?”Kim Bum tersenyum.
“Terserah kau sajalah Bum. Oh ya, nanti aku hanya mengantarmu saja ya. Setelah itu aku langsung menuju café amour. Pasti perempuan itu sudah marah-marah.”
“Hahahaha. Baiklah, setelah masalah mu selesai. Jemput aku ya.”
Kim Bum dan Min Ho pun sampai ketempat pemotretan. Setelah Kim Bum turun dari mobil Min Ho. Min Ho pun berbalik arah. Menuju ke café amour. Sesampainya disana dilihatnya seorang wanita yang sedang sibuk dengan kertas-kertas dan laptopnya. Wanita yang kemarin Min Ho temui.
“Hey..”sapa Min Ho.
“Kau buta ya? Apa kau tuli? Sudah ku bilang jam 9.30 tidak boleh terlambat. Dan sekarang sudah jam 10.20 , selain pemabuk ternyata kau juga Buta dan Tuli ya..”kata wanita itu kasar.
“Aku bukan pemabuk, aku tidak tuli dan buta!!”kesabaran Min Ho pun sudah mulai habis.
“Mana Hp ku. Tak usah lama-lama berbasa-basi dengan mu. Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang seperti mu.”wanita itu kembali berbicara dengan kasar.
“Kau kira aku mau meladeni wanita seperti mu? Hah? Apa aku kurang kerjaan? Kau tau, kalau bukan karena aku kasian terhadapmu. Aku tak akan mau mengembalikan Hp jelek mu ini.”Min Ho segera mengeluarkan Hp dari sakunya.
“Terserah kau saja.”wanita itu mulai membuka-buka panggilan masuk, keluar dan sms.
“Hey, nomor siapa ini?”tanya wanita itu pada Min Ho.
“Manaku tau. Yang jelas, kemarin ada yang menelephone ke nomormu ini. Kalau tak salah dia bilang ‘tolong sampaikan pada noona, besok sebelum jam 10 pagi mengantar naskah-naskah’. Yah kira-kira begitulah.”kata Min Ho santai.
“Apaa????!!!!!”wanita tersebut kaget.
“Kenapa?”tanya Min Ho binggung.
“Naskah-naskah itu. Jam 10 pagi?!!!!! Semua gara-gara kau!!! Kalau aku tak bertemu dengan mu pasti aku tak akan sial seperti sekarang ini!!!”kata wanita itu pergi meninggalkan Min Ho. Sebelum wanita itu pergi, Min Ho melihat mata wanita itu berkaca-kaca.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Min Ho pun segera pergi meninggalkan café amour. Dan menuju lokasi pemotretan. Sesampainya ia disana sedang break. Dilihatnya Kim Bum yang masih sibuk dengan kameranya.
“Bum..”sapa Min Ho lemas.
“Hey Min Ho. Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”tanya Min Ho balik.
“Yang kau temui barusan?”jelas Kim Bum.
“Oh itu. Tidak apa-apa.”jawab Min Ho lemas.
“Tapi mengapa mukamu kelihatan sangat lemas Min Ho?”tanya Kim Bum.
“Aku tidak apa-apa. Apa sudah selesai?”
“Belum. Kami masih beristirahat.”kata Kim Bum yang masih sibuk mengatur settingan kameranya.
“Oh. Mana model-model itu?”Min Ho melihat sekelilingnya.
“Itu disana, didekat kolam.”kata Kim Bum menujuk 2 orang yang sedang bermesraan.
“Hah?”terdengar suara Min Ho kaget.
“Heh. Ada apa?”tanya Kim Bum panic.
“Mereka berpacaran ya?”
“Sepertinya begitu. Sudahlah, kitakan bukan paparazzi. Lagi pula kalau mereka berpacaran kita yang untung. Bisa mendapat chemistry mereka pada saat berfoto.”Kim Bum berkata tidak peduli.
“Benar juga ya. Kitakan bukan paparazzi. Ya sudah aku menunggu disana saja. Selesai jam berapa kau?”tanya Min Ho.
“Mungkin sebentar lagi. Ada apa?”tanya Kim Bum.
“Tidak apa-apa.”Min Ho pun duduk sambil menyaksikan pemotretan itu.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
“So Eun, cepat turun. Pengacara Soo sudah datang!!”pangil Pak Woo.
“Iya….”So Eun berteriak dari kamarnya dan segera turun menemui pengacara Soo.
“Pak Woo. Oppa Donghae kemana? Kok tidak ada sih?”tanya So Eun.
“Kemarin dia bilang menginap di studio. Cuman dia berjanji akan datang tepat pada saat pengacara Soo datang. Tapi sepertinya dia belum datang.”Pak Woo memandang sekitarnya.
“Aku disini dongsae…”kata Donghae pada So Eun.
“Hey Oppa.”Donghae pun memeluk So Eun.
Hari ini adalah pembacaan surat wasiat. Yang sebenarnya sudah 1 bulan yang lalu ditulis oleh orang tua mereka.
“Kalian sudah siapkan?”tanya Pengacara Soo.
“Hemmm.. Sudah.”Donghae mewakilkan.
“Baiklah.”Pengacara Soo berhenti sesaat lalu melanjutkan. “Donghae, karena kamu anak laki-laki yang paling tua. Maka kamu lah yang bertanggung jawab atas perusahaan papa mu yang di Seoul. Kamu juga berhak atas rumah ini.”
“Apaa?!!!!”Donghae kaget, tak percaya. Raut mukanya menyataakan ketidak setujuannya.
“Sebentar Donghae, biar pengacara Soo yang melanjutkan. Pengacara Soo, silahkan..”kata Pak Woo.
“Baik. Sedangkan kamu So Eun, kamu berhak atas butik mama mu. Serta rumah kedua orang tua mu yang ada di pulau Jeju. Rumah kalian yang ada di Pyongyang sengaja dijual. Dan uangnya ¾ bagian disumbangankan ke panti asuhan. Sedangkan ¼ bagian, diberikan kepada Pak Woo dan pembantu-pembantu yang sudah mengabdi pada keluarga kalian. Apa sudah cukup jelas?”tanya pengacara Soo.
“Hah? Apakah semuanya bisa diganti?”tanya Donghae agak kesal.
“Tidak Donghae. Kau harus mengahargai amanat alm.kedua orang tuamu. Mulai besok, kau yang memegang kendali atas perusahaan papa mu.”Pengacara Soo melanjutkan.
“Tapi.. Aku tidak bisa….”
“Pak Woo yang akan membantu kamu Donghae. Apa sudah cukup jelas?”tanya pengcara Soo.
Semuanya diam, tak ada yang berbicara.
“Pengacara Soo, mari saya antar keluar.”Pak Woo mengajak.
So Eun menenangkan Donghae yang kelihataan steress. Dan tak menerima semua yang terjadi.
“Oppa sudahlah jangan dipikirkan.”kata So Eun memgang bahu Donghae.
Donghae menepis tangan So Eun dengan kasar.
“Kau tak mengerti apa-apa!!!”kata Donghae meninggalkan So Eun.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Keesokan paginya..
Donghae sudah siap dengan pakaian kerjanya. Kemeja, jas, dan tas sudah lengkap.
So Eun memandang kagum ke arah Donghae.
“Wah.. Oppa ku udah ganteng. Kalau begini terus pasti banyak wanita yang mengantri nih.”ledek So Eun.
Donghae tak menjawab apa-apa dan pergi meninggalkan So Eun.
“Oppaaa….”panggil So Eun pelan.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
“Min Ho, hari ini ada pemotretan?”tanya Kim Bum.
“Tidak. Mungkin minggu depan.”jelas Min Ho.
“Oh, dengan siapa?”
“Dengan yang kemarin.”
“Yang kemarin siapa?”tanya Kim Bum lupa.
“Kim Joon dan Gook Yi Jun.”
“Oh. Mereka.”Kim Bum mengangguk-angguk ingat.
“Min Ji!!!..........”panggil Kim Bum.
“Iya Oppa.”teriak Min Ji.
“Hari ini kau kuliah?”
“Iyaa. Kenapa??”tanya Min Ji.
“Tidak. Pulang jam berapa?”
“Aku tidak tau.”
“Oh… cepat pulang ya. Biar nanti kita makan malam bersama.”
“Baiklah..”
Min Ji pun berpamitan dan segera pergi menuju kampus.
Sesudah pulang, Min Ji membaca alamat yang ada di kartu tanda pengenal dan segera menuju kesana.
Ting…. Tong…
“Iya tunggu sebentar.”
“Haii…”sapa Min Ji.
“Haii...”
“Benar ini rumah Lee Donghae?”tanya Min Ji.
“Benar. Dengan siapa ya?”tanya So Eun.
“Kim Min Ji.”
“Oh… Tapi Oppa lagi pergi. Ada pesan?”tanya So Eun.
“Oh.. tidak-tidak. Aku hanya mau menitip ini.”Min Ji mengeluarkan kartu tanda pengenal serta kartu nama milik Donghae.
“Loh kok? Ini bisa ada di kamu sih?”tanya So Eun agak kaget.
“Oh itu. Ketinggalan dimobil saya. Makasih ya. Saya pamit dulu.”Min Ji pun berjalan meninggalkan So Eun yang masih binggung.
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Malam Harinya..
“Oppa udah pulang?”tanya So Eun manis.
“Maaf So Eun. Saya gak ada waktu.”Donghae segera masuk ke kamar. Tapi So Eun lebih cepat dan menahan Donghae.
“Ini…”kata So Eun menunjukan kartu tanda pengenalnya.
“Tadi ada seorang wanita yang datang memberikan itu. Namanya Kim Min Ji. Tapi tadi kau sedang bekerja.”kata So Eun dengan wajah mulai kesal.
“Oh..”Donghae mengambil kartu itu lalu masuk kedalam kamarnya.
---Begitu setiap harinya. So Eun merasa sendiri. Donghae tak seperti dulu lagi. Donghae tak pernah berbicara, menegur So Eun pun tidak. Kim Joon kekasihnya juga tak pernah datang lagi ---
“Maah… Paahh… Oppa Donghae gak seperti dulu lagi. Dia sekarang jadi pendiam. So Eun gak diperhatikan sama oppa. Mah… Pah.. So Eun kangen sama kalian. Kalian dimana sekarang?”So Eun menangis tiada henti. Hari-harinya dia isi dengan kekosongan, menangis. Dia juga tak mempedulikan pendidikannya lagi. Dia lebih senang di rumah.
Suatu Hari……………
“Sudah lama aku tidak menjengguk oppa Kim Joon. Sedang apa ya dia sekarang?”tanya So Eun pada dirinya sendiri.
“Lebih baik aku buatkan makanan. Untuk ku bawa ke tempat pemotretannya. Pasti dia senang deh. Hihihihi…”
So Eun pun memasak makan siang. Dan menelepon ke manager Kim Joon menanyakan tempat lokasi Kim Joon mengadakan pemotretan. 1 jam akirnya So Eun sampai juga ke pulau Jeju. Dengan tersenyum So Eun membawa makan siang buat Kim Joon. Awalnya sih So Eun mau membuat kejutan buat Kim Joon. Tapi mengapa sekarang malah dia yang terkejut.
Seketika itu juga bekal yang dia bawa jatuh kelantai.
“Oppaa………”panggil So Eun sambil menangis, lalu berlari cepat.
“So Eun!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Kim Joon kaget.
-----Waduh. Kenapa tuh So Eun? Kenapa lari-lari? Terus kenapa juga jatuhin bekalnya? Terus kenapa sih Kim Bum sama Kim So Eun nya belum ketemu? . Cuman ada di part 4 doank. Itu pun cuman sedikit. Semuanya akan terjawab di Part.6 ---
Ikutin terus ya chingu. Jangan lupa commentnya.
Biar makin semangat ngetik Part.6 nya. Oke… XDDD