Rabu, 09 Desember 2009

- JoonEunBum - Part.5

Annyeonghaseyo chingu..

Sekali lagi maaf ya, Part.5 nya aku post agak lama. Hehehe. Baru selesai ulangan sih.

Mian juga chingu..

Part.5 nya agak panjang.. hehehehe. Habis pada minta lebih panjang sih.

Ya udah langsung aja ya. Let’s cheekidot.

“Min Ji kau ingin pesan makanan apa?”tanya Donghae.

Tetapi belum saja Min Ji menjawab langsung dipotong oleh Donghae.

“Kepiting kan?”tanya Donghae merasa tebakannya akan benar lagi.

“Hah? Kenapa kau tau kalau aku suka kepiting?”tanya Min Ji kaget.

“Hanya menebak.”kata Donghae tetap santai. Lalu memesan makanan kepada pelayan restaurant. Sesudah pelayan itu pergi Min Ji melanjutkan tanpa basa-basi.

“Kau? Darimana kau tau semua kesukaan ku?”tanya Min Ji dengan suara meninggi.

“Aku hanya menebak.”jawab Donghae tetap santai.

“Aku tidak percaya. Kau pasti berbohong. Ceritakan semuanya sekarang, atau aku akan pergi dari sini!!!!”Min Ji mulai kesal.

“Hey, jangan seperti itu. Baiklah aku mengaku….”kata Donghae tertunduk.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

“Min Ho, mukamu kenapa?”tanya Kim Bum dengan suara menahan tawa.

“Aku tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita pulang sekarang.”Min Ho mengambil kunci mobil yang terletak di meja. Kim Bum pun segera membayar lalu mengikuti Min Ho yang sudah berada di parkiran mobil café amour. Di mobil Min Ho masih memikirkan gadis yang tadi dia temui di café amour. Setelah hening dengan pikiran masing-masing, Kim Bum memulai pembicaraan.

“Min Ho, kapan aku harus memotret model-model yang kau bilang tadi?”

“Hem?”Min Ho kaget.

Kim Bum mengulang pertanyaannya.

“Oh itu. Lusa. Sebenarnya sih besok, cuman di undur. Karena salah satu model sedang berduka.”Min Ho melanjutkan. Kim Bum mengangguk-angguk.

“Min Ho, kau tau gadis yang kukira adik ku tadi?”

“Hmm. Iya. Kenapa?”

“Aku merasa mukanya sangat familiar. Tapi aku tak kenal dengannya.”

“Mungkin perasaan mu saja kali, karena dia mirip dengan Min Ji.”Min Ho menjawab.

“Mungkin.”Kim Bum menghela nafas panjang.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

“So Eun, makanlah. Kau jangan begini terus.”Kim Joon memohon kepada So Eun.

“Oppa, gimana ya keadaan papa sama mama?”So Eun menatap kedepan, tatapan kosong.

“Mereka sudah tenang disana So Eun.”Kim Joon memandang So Eun iba.

“Seandainya saja aku gak maksain mereka untuk liburan ke Perth. Mungkin mereka masih didunia ini. Semua salah So Eun!!!!!”So Eun menangis terisak.

“So Eun, tak ada yang bisa menambah atau mengurangi umur seseorang selain Tuhan. Itu bukan salah kamu.”Kim Joon memeluk So Eun. So Eun menangis terisak di pelukan Kim Joon.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

“Jadi?”tanya Min Ji.

“Sebenarnya, sudah beberapa bulan yang lalu… aku melihatmu sering pergi kesini dengan seorang cowok. Dan kau selalu memesan kepiting. Lalu memakannya dengan semangat. Seminggu yang lalu aku melihatmu datang kesini hanya sendiri, dan menangis. Aku mengira kau sudah putus dengan pacarmu. Dan tak ku sangka kita bertemu di pantai tadi.”Donghae menjawab malu.

“Hah? Pacarku? Siapa?”tanya Min Ji kaget.

“Masa kau tidak ingat pacar sendiri.”

“Jangan-jangan yang kau maksud Oppa Kim Bum?”Min Ji menahan senyum.

“Oppa?”Donghae berkata binggung.

“Iya. Aku sering kesini dengan Oppa ku. Namanya Kim Bum. Aku belum pernah punya pacar.”jawab Min Ji.

“Oh.. jadi yang itu Oppa mu toh? Hah? Masa kau belum pernah pacaran?”

“Hmm. Belum pernah. Dan satu lagi, aku tak mungkin menangis di depan umum hanya karena seorang cowok!!!!”kata Min Ji..

“Lalu siapa yang kau tangisi kemarin? Kalau bukan cowok?”tanya Donghae penasaran.

“Mama ku. Sudahlah kenapa jadi membahas tentang diriku. Kau sendiri, mengapa kau memperhatikanku, memangnya ada yang salah dengan aku ya?”Min Ji melihat tubuhnya, dan memegang wajahnya.

“Ohw. Itu, oh. Tidak, tidak ada. Hmmm.”Donghae jadi salah tingkah. Donghae menghela nafas lega. Pelayan datang membawakan pesanan mereka tadi.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

“Min Ho kau tak masuk dulu kedalam?”tanya Kim Bum.

“Oh. Tak usah Kim Bum. Sudah malam, aku langsung pulang saja. Aku juga sudah capek. Sudah ya. Bye2..”Min Ho pun melaju cepat dengan mobilnya.

Beepppp… Beepppp…

“Suara apa itu?”Min Ho bertanya sendiri.

Ternyata saku bajunya bergetar.

“Hallo….”terdengar suara cowok dari sebrang.

“Hallo…”balas Min Ho.

“Tolong sampaikan pada Noona, naskah yang kemarin dia tulis bawa kesini. Dan jangan sampai terlambat. Sebelum jam 10 pagi. Terima kasih.”

Telephone ditutup.

Jadi wanita tadi penulis toh. Batin Min Ho.

Terdengar lagi getaran Hp.

“Hallo….”jawab seseorang wanita dari seberang dengan suara marah.

“Hallo..”jawab Min Ho santai.

“Kau siapa? Cepat kembalikan Hp ku sekarang!!!”

“Kenalkan aku Min Ho. Lee Min Ho. Kembalikan Hp mu? Mengapa aku harus mengembalikan Hp mu. Salah sendiri ditinggal di café.”

“Oh. Jadi kau lelaki pemabok yang membuat laptop ku di servis dan naskah-naskah ku rusak.. cepat lembalikan Hp ku, sebelum kau ku cincang jadi daging.”

“Coba saja kalau kau berani.”Min Ho masih menjawab santai.

“Kau!!!! Cepat kembalikan Hp ku.. atau…………..”

“Atau apa? Kau melapor kepada polisi? Memang polisi mau meladenin perempuan yang gak punya etika kayak kau?”

“Kau tak usah banyak omong. Besok di café amor aku tunggu jam 9.30 pagi. Jangan terlambat sedetik pun.”Telepone ditutup kasar.

Min Ho hanya tersenyum puas.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

“So Eun, aku pulang dulu ya. Tiga hari kedepan aku tak bisa kesini. Aku ada pemotretan.”

“Baik. Hati-hati dijalan ya Oppa. Bye2.”

Kim Joon menyium kening So Eun, lalu pergi meninggalkan rumah So Eun. So Eun masuk ke kamar dan menangis disana. Menyesali semua yang telah terjadi. Dia sudah mencoba untuk tegar. Tetapi tak bisa. So Eun melamun membayangkan kejadian itu. Begitu cepat, begitu sadis, dan begitu meninggalkan luka yang sangat dalam dan susah untuk disembuhkan. So Eun menigat-ingat kembali wajah kedua orang tuanya. So Eun memeluk bingkai foto keluarganya dan tertidur.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

“Min Ji, bolehkah aku minta nomor telephone mu?”tanya Donghae.

“Tidak.”Min Ji menggeleng.

“Oh. Ya sudah, tak apa. Aku pulang dulu ya. Hati-hati di jalan.”Donghae berjalan meninggalkan Min Ji.

“Heh?”baru saja Min Ji memanggil Donghae sudah jauh berada didepannya.

Min Ji pun segera pulang. Donghae tidak mau merepotkan Min Ji bila harus mengantarnya pulang. Lagi pula dia juga tidak ingin So Eun mengira yang tidak-tidak. Donghae pun merenung di taxi. Dia segera menelephone teman bandnya, untuk berkumpul di studio mereka. Dalam 1 jam mereka sudah berkumpul di studio.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Kesekoan paginya…

Kim Bum sedang memeriksa kameranya. Min Ho yang sudah datang dari 2 jam yang lalu menunggu di ruang tamu sambil memakan roti yang dia beli di dekat rumah Kim Bum.

“Bum, apakah masih lama?”tanya Min Ho.

“Sabarlah. Sebentar lagi. Lagi pula kau tau, mana mungkin ada model yang datang on time. Selalu saja kita yang harus menunggu mereka. Lagi pula pemotretannya dimulai 1 jam lagi.”Kim Bum masih mengelap lensa cameranya.

“Iya, tapi aku sudah bosan. Min Ji kemana Bum?”tanya Min Ho pada Kim Bum.

“Aku disini oppa Min Ho. Ada apa? Kangen denganku ya?”tanya Min Ji bercanda.

“Tidak. Jangan bercanda kau. Hehehehe..”Min Ho bercanda.

“Huh. Dasar oppa Min Ho. Oppa Kim Bum, aku pergi dulu ya.”Min Ji pun segera pergi.

“Bum, dari kemarin Min Ji pergi terus. Kemana sih?”tanya Min Ho seolah ingin tau.

“Mana ku tau. Sudah selesai nih, ayuk pergi.”Kim Bum pun mengambil alat-alat buat pemotretan. Dan mereka pun pergi menuju tempat pemotretan.

“Bum, jam berapa sekarang?”tanya Min Ho.

“Jam 9.45 , kenapa?”tanya Kim Bum.

“Tidak.”

Min Ho merasa saku nya bergetar. Dilihatnya, ternyata ada panggilan masuk. Segera diangkatnya.

“Hallo..”

“Hey, kau dimana? Aku sudah menunggu lama disini. Cepat kembalikan Hp ku!!!”terdengar suara dari sebrang.

“Hah? Aku lupa. 1 jam lagi aku akan datang. Oke. Tunggu disana ya.”Min Ho segera menutup sambungan telephone dan mencopot baterainya.

“Siapa?”tanya Kim Bum.

“Wanita yang kemarin di café amour. Kau ingat?”tanya Min Ho.

“Tentu saja. Memang kalian berkenalan ya? Mengapa dia bisa tau nomor Hp mu?”tanya Kim Bum.

“Berkenalan? Mana mungkin aku mau berkenalan sama dia. Hp nya tertinggal. Jadi aku disuruh kembalikan ditempat kemarin. Kau tau, aku dibilang cowok pemabuk olehnya. Hanya karena aku memegang dua botol soju.”Min Ho memasang raut wajah kesal.

“Hahahahahaha. Sudahlah Min Ho, kau terima nasib saja. Untung kau cuman dibilang cowok pemabuk. Kalau dibilang orang gila bagaimana?”Kim Bum tersenyum.

“Terserah kau sajalah Bum. Oh ya, nanti aku hanya mengantarmu saja ya. Setelah itu aku langsung menuju café amour. Pasti perempuan itu sudah marah-marah.”

“Hahahaha. Baiklah, setelah masalah mu selesai. Jemput aku ya.”

Kim Bum dan Min Ho pun sampai ketempat pemotretan. Setelah Kim Bum turun dari mobil Min Ho. Min Ho pun berbalik arah. Menuju ke café amour. Sesampainya disana dilihatnya seorang wanita yang sedang sibuk dengan kertas-kertas dan laptopnya. Wanita yang kemarin Min Ho temui.

“Hey..”sapa Min Ho.

“Kau buta ya? Apa kau tuli? Sudah ku bilang jam 9.30 tidak boleh terlambat. Dan sekarang sudah jam 10.20 , selain pemabuk ternyata kau juga Buta dan Tuli ya..”kata wanita itu kasar.

“Aku bukan pemabuk, aku tidak tuli dan buta!!”kesabaran Min Ho pun sudah mulai habis.

“Mana Hp ku. Tak usah lama-lama berbasa-basi dengan mu. Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang seperti mu.”wanita itu kembali berbicara dengan kasar.

“Kau kira aku mau meladeni wanita seperti mu? Hah? Apa aku kurang kerjaan? Kau tau, kalau bukan karena aku kasian terhadapmu. Aku tak akan mau mengembalikan Hp jelek mu ini.”Min Ho segera mengeluarkan Hp dari sakunya.

“Terserah kau saja.”wanita itu mulai membuka-buka panggilan masuk, keluar dan sms.

“Hey, nomor siapa ini?”tanya wanita itu pada Min Ho.

“Manaku tau. Yang jelas, kemarin ada yang menelephone ke nomormu ini. Kalau tak salah dia bilang ‘tolong sampaikan pada noona, besok sebelum jam 10 pagi mengantar naskah-naskah’. Yah kira-kira begitulah.”kata Min Ho santai.

“Apaa????!!!!!”wanita tersebut kaget.

“Kenapa?”tanya Min Ho binggung.

“Naskah-naskah itu. Jam 10 pagi?!!!!! Semua gara-gara kau!!! Kalau aku tak bertemu dengan mu pasti aku tak akan sial seperti sekarang ini!!!”kata wanita itu pergi meninggalkan Min Ho. Sebelum wanita itu pergi, Min Ho melihat mata wanita itu berkaca-kaca.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Min Ho pun segera pergi meninggalkan café amour. Dan menuju lokasi pemotretan. Sesampainya ia disana sedang break. Dilihatnya Kim Bum yang masih sibuk dengan kameranya.

“Bum..”sapa Min Ho lemas.

“Hey Min Ho. Bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”tanya Min Ho balik.

“Yang kau temui barusan?”jelas Kim Bum.

“Oh itu. Tidak apa-apa.”jawab Min Ho lemas.

“Tapi mengapa mukamu kelihatan sangat lemas Min Ho?”tanya Kim Bum.

“Aku tidak apa-apa. Apa sudah selesai?”

“Belum. Kami masih beristirahat.”kata Kim Bum yang masih sibuk mengatur settingan kameranya.

“Oh. Mana model-model itu?”Min Ho melihat sekelilingnya.

“Itu disana, didekat kolam.”kata Kim Bum menujuk 2 orang yang sedang bermesraan.

“Hah?”terdengar suara Min Ho kaget.

“Heh. Ada apa?”tanya Kim Bum panic.

“Mereka berpacaran ya?”

“Sepertinya begitu. Sudahlah, kitakan bukan paparazzi. Lagi pula kalau mereka berpacaran kita yang untung. Bisa mendapat chemistry mereka pada saat berfoto.”Kim Bum berkata tidak peduli.

“Benar juga ya. Kitakan bukan paparazzi. Ya sudah aku menunggu disana saja. Selesai jam berapa kau?”tanya Min Ho.

“Mungkin sebentar lagi. Ada apa?”tanya Kim Bum.

“Tidak apa-apa.”Min Ho pun duduk sambil menyaksikan pemotretan itu.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

“So Eun, cepat turun. Pengacara Soo sudah datang!!”pangil Pak Woo.

“Iya….”So Eun berteriak dari kamarnya dan segera turun menemui pengacara Soo.

“Pak Woo. Oppa Donghae kemana? Kok tidak ada sih?”tanya So Eun.

“Kemarin dia bilang menginap di studio. Cuman dia berjanji akan datang tepat pada saat pengacara Soo datang. Tapi sepertinya dia belum datang.”Pak Woo memandang sekitarnya.

“Aku disini dongsae…”kata Donghae pada So Eun.

“Hey Oppa.”Donghae pun memeluk So Eun.

Hari ini adalah pembacaan surat wasiat. Yang sebenarnya sudah 1 bulan yang lalu ditulis oleh orang tua mereka.

“Kalian sudah siapkan?”tanya Pengacara Soo.

“Hemmm.. Sudah.”Donghae mewakilkan.

“Baiklah.”Pengacara Soo berhenti sesaat lalu melanjutkan. “Donghae, karena kamu anak laki-laki yang paling tua. Maka kamu lah yang bertanggung jawab atas perusahaan papa mu yang di Seoul. Kamu juga berhak atas rumah ini.”

“Apaa?!!!!”Donghae kaget, tak percaya. Raut mukanya menyataakan ketidak setujuannya.

“Sebentar Donghae, biar pengacara Soo yang melanjutkan. Pengacara Soo, silahkan..”kata Pak Woo.

“Baik. Sedangkan kamu So Eun, kamu berhak atas butik mama mu. Serta rumah kedua orang tua mu yang ada di pulau Jeju. Rumah kalian yang ada di Pyongyang sengaja dijual. Dan uangnya ¾ bagian disumbangankan ke panti asuhan. Sedangkan ¼ bagian, diberikan kepada Pak Woo dan pembantu-pembantu yang sudah mengabdi pada keluarga kalian. Apa sudah cukup jelas?”tanya pengacara Soo.

“Hah? Apakah semuanya bisa diganti?”tanya Donghae agak kesal.

“Tidak Donghae. Kau harus mengahargai amanat alm.kedua orang tuamu. Mulai besok, kau yang memegang kendali atas perusahaan papa mu.”Pengacara Soo melanjutkan.

“Tapi.. Aku tidak bisa….”

“Pak Woo yang akan membantu kamu Donghae. Apa sudah cukup jelas?”tanya pengcara Soo.

Semuanya diam, tak ada yang berbicara.

“Pengacara Soo, mari saya antar keluar.”Pak Woo mengajak.

So Eun menenangkan Donghae yang kelihataan steress. Dan tak menerima semua yang terjadi.

“Oppa sudahlah jangan dipikirkan.”kata So Eun memgang bahu Donghae.

Donghae menepis tangan So Eun dengan kasar.

“Kau tak mengerti apa-apa!!!”kata Donghae meninggalkan So Eun.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Keesokan paginya..

Donghae sudah siap dengan pakaian kerjanya. Kemeja, jas, dan tas sudah lengkap.

So Eun memandang kagum ke arah Donghae.

“Wah.. Oppa ku udah ganteng. Kalau begini terus pasti banyak wanita yang mengantri nih.”ledek So Eun.

Donghae tak menjawab apa-apa dan pergi meninggalkan So Eun.

“Oppaaa….”panggil So Eun pelan.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

“Min Ho, hari ini ada pemotretan?”tanya Kim Bum.

“Tidak. Mungkin minggu depan.”jelas Min Ho.

“Oh, dengan siapa?”

“Dengan yang kemarin.”

“Yang kemarin siapa?”tanya Kim Bum lupa.

“Kim Joon dan Gook Yi Jun.”

“Oh. Mereka.”Kim Bum mengangguk-angguk ingat.

“Min Ji!!!..........”panggil Kim Bum.

“Iya Oppa.”teriak Min Ji.

“Hari ini kau kuliah?”

“Iyaa. Kenapa??”tanya Min Ji.

“Tidak. Pulang jam berapa?”

“Aku tidak tau.”

“Oh… cepat pulang ya. Biar nanti kita makan malam bersama.”

“Baiklah..”

Min Ji pun berpamitan dan segera pergi menuju kampus.

Sesudah pulang, Min Ji membaca alamat yang ada di kartu tanda pengenal dan segera menuju kesana.

Ting…. Tong…

“Iya tunggu sebentar.”

“Haii…”sapa Min Ji.

“Haii...”

“Benar ini rumah Lee Donghae?”tanya Min Ji.

“Benar. Dengan siapa ya?”tanya So Eun.

“Kim Min Ji.”

“Oh… Tapi Oppa lagi pergi. Ada pesan?”tanya So Eun.

“Oh.. tidak-tidak. Aku hanya mau menitip ini.”Min Ji mengeluarkan kartu tanda pengenal serta kartu nama milik Donghae.

“Loh kok? Ini bisa ada di kamu sih?”tanya So Eun agak kaget.

“Oh itu. Ketinggalan dimobil saya. Makasih ya. Saya pamit dulu.”Min Ji pun berjalan meninggalkan So Eun yang masih binggung.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Malam Harinya..

“Oppa udah pulang?”tanya So Eun manis.

“Maaf So Eun. Saya gak ada waktu.”Donghae segera masuk ke kamar. Tapi So Eun lebih cepat dan menahan Donghae.

“Ini…”kata So Eun menunjukan kartu tanda pengenalnya.

“Tadi ada seorang wanita yang datang memberikan itu. Namanya Kim Min Ji. Tapi tadi kau sedang bekerja.”kata So Eun dengan wajah mulai kesal.

“Oh..”Donghae mengambil kartu itu lalu masuk kedalam kamarnya.

---Begitu setiap harinya. So Eun merasa sendiri. Donghae tak seperti dulu lagi. Donghae tak pernah berbicara, menegur So Eun pun tidak. Kim Joon kekasihnya juga tak pernah datang lagi ---

“Maah… Paahh… Oppa Donghae gak seperti dulu lagi. Dia sekarang jadi pendiam. So Eun gak diperhatikan sama oppa. Mah… Pah.. So Eun kangen sama kalian. Kalian dimana sekarang?”So Eun menangis tiada henti. Hari-harinya dia isi dengan kekosongan, menangis. Dia juga tak mempedulikan pendidikannya lagi. Dia lebih senang di rumah.

Suatu Hari……………

“Sudah lama aku tidak menjengguk oppa Kim Joon. Sedang apa ya dia sekarang?”tanya So Eun pada dirinya sendiri.

“Lebih baik aku buatkan makanan. Untuk ku bawa ke tempat pemotretannya. Pasti dia senang deh. Hihihihi…”

So Eun pun memasak makan siang. Dan menelepon ke manager Kim Joon menanyakan tempat lokasi Kim Joon mengadakan pemotretan. 1 jam akirnya So Eun sampai juga ke pulau Jeju. Dengan tersenyum So Eun membawa makan siang buat Kim Joon. Awalnya sih So Eun mau membuat kejutan buat Kim Joon. Tapi mengapa sekarang malah dia yang terkejut.

Seketika itu juga bekal yang dia bawa jatuh kelantai.

“Oppaa………”panggil So Eun sambil menangis, lalu berlari cepat.

“So Eun!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”Kim Joon kaget.


-----Waduh. Kenapa tuh So Eun? Kenapa lari-lari? Terus kenapa juga jatuhin bekalnya? Terus kenapa sih Kim Bum sama Kim So Eun nya belum ketemu? . Cuman ada di part 4 doank. Itu pun cuman sedikit. Semuanya akan terjawab di Part.6 ---

Ikutin terus ya chingu. Jangan lupa commentnya.

Biar makin semangat ngetik Part.6 nya. Oke… XDDD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar