Annyeonghaseyo chingu.
Maaf ya agak lama post nya. Tadi nya sih gak mau hari ini post nya. Mendadak otak saya mandeg. Tapi karena udah semangat ngetik. Jadi deh hari ini.Hehehehe.
Agak panjang juga nih.
Oh ya ada cameo baru nih..
Siapa yaaa?
Tereeeeeeeeengggg…
Lee Min Jung
Sahabat SMA Min Ho dan Kim Bum. Yang sering di ledekin sama Min Ho dan Kim Bum. Diledekin apa sih? Langsung aja baca Part nih. Let’s cekidot^^
“So Eun!!! Tunggu aku.. So Eun…”Kim Joon mengejar So Eun yang sudah pergi dengan mobilnya.
Pemandangan yang tak seharusnya dilihat oleh So Eun. Kim Joon berciuman dengan Gook Yi Jun.
Kebetulan saat So Eun datang acara pemotretan sudah selesai. Jadi tak ada yang melihat kejadian barusan. Tetapi…………
“Bum, hey. Kau mau kemana? Hey!!!”panggil Min Ho khawatir.
Kim Bum melaju cepat dengan mobilnya.
Min Ho yang mau ikut menyusul tiba-tiba mendapatkan telephone dari pemilik tempat lokasi yang mereka pakai.
So Eun terus menangis didalam mobil.
“Oppa, kau sungguh keterlaluan!!! Aku sangat membenci mu!!!”So Eun terus menangis dan mengemudi tidak terkontrol.
So Eun pun tak sadar di belakang ada mobil yang mengikutinya..
So Eun pun pergi tak tau kemana. Dia hanya bisa berputar-putar disekitar pulau Jeju. Dan akirnya dia berhenti dipantai. So Eun berteriak sekencang-kencangnya.
“Kau!!!! Oppa Kim Joon!!!!!!!!!! Kenapa kau begitu jahat pada ku? Apa salah ku?!!! Hah? Apa!!!!!! Aku sudah percaya kepada mu. Tapi kau………….. kau jahat kepada ku.. hikxxx.. hikxxx…”So Eun menangis dengan kencang, sampai suara tangisannya terasa serak.
“Salahmu adalah kau begitu bodoh!!!!!”
“Hah?”So Eun menegok ke belakang. “Siapa kau?”tanya So Eun.
“Kenalkan aku Kim Bum. Apa gunanya kau berteriak-teriak dipantai seperti orang bodoh? Memangnya pantai bisa memberikan solusi untukmu? Kau bertanya apa salah mu? Dan ku jawab kau begitu bodoh!!!”kata Kim Bum dengan suara agak keras.
“Apa maksudmu? Bodoh?”tanya So Eun tak mengerti.
“Iya. Untuk apa kau berikan kepercayaan kepada orang yang tak pantas untuk dipercayai? Itu tandanya kau bodoh!!!”
“Kenapa kau menyalahkan ku? Memangnya kau tau permasalahan ku? Hah? Memangnya kau siapa berhak berkata kalau aku bodoh?”So Eun mulai kesal.
“Kau tau. Aku juga pernah merasakan sakitnya menyesali perbuatan sendiri? Sama seperti mu. Bedanya disaat itu aku tak mengerti apa yang kulakukan.”
“Apa maksudnya? Aku tetap tidak mengerti?”tanya So Eun mulai binggung.
“Dan kau sudah mengerti, apa yang kau lakukan. Kau dapat membedakan mana yang baik buat jalan hidupmu. Dan menentukannya sesuai dengan maumu.”Kim Bum berjalan mendekati So Eun.
“Aku tahu aku bodoh. Aku tau itu. Tapi mengapa semua orang di dunia ini seakan pergi jauh meninggalkan ku? Hah? Tuhan tak adil padaku. Semua cobaan itu ku terima tiada henti-hentinya.”So Eun menangis terisak.
“Kau jangan menyalahkan Tuhan. Kau harus belajar mengkoreksi diri.”
“Tapi……..”So Eun jatuh terselungkup menangis.
Kim Bum hanya bisa menenangkannya, memeluk So Eun dan membelai rambut So Eun. Kim Bum merasakan sensasi yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Dia merasa sakit berada di dekat So Eun merasa sesak, merasa menyesal. Tapi dia tidak mengerti maksud semuanya. Dia merasa sangat rindu, sangat nyaman berada didekat So Eun. Kim Bum menghela nafas, dan menenagkan So Eun yang masih nagis terisak-isak.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
“Kau mau ku antar pulang?”tanya Kim Bum pada So Eun yang masih kelihatan lemah.
“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”kata So Eun yang masih kelihatan lemah.
“Memang rumah mu dimana?”
“Didekat sini.”So Eun menjawab halus.
“Rumahmu dipulau Jeju?”tanya Kim Bum agak binggung.
“Aku punya rumah disini. Aku pulang dulu. Terima kasih buat kata-katamu barusan.”
So Eun langsung tancap gas meninggalkan Kim Bum.
Kim Bum takut terjadi apa-apa dengan So Eun. Dia pun mengikuti So Eun. Beberapa kali mobil So Eun mau menabrak pohon. Tapi So Eun langsung sadar. Kim Bum yang dari belakangnya mengikuti So Eun, panic tak menentu. Akirnya So Eun sampai kerumahnya yang ada di pulau Jeju. Sesampainya So Eun dikamar, dia menangis. Dia merasa benar-benar mati. Dunianya yang dulu hilang. Dan berganti dengan dunia yang sangat tidak dia harapkan. Dunia yang sangat di benci. Dunia yang pergi meninggalkannya hanya sendiri.
“Lebih baik aku mati, tak ada gunanya aku tetap hidup didunia ini.”So Eun pun mencari pisau lipat di laci kamarnya.
“Pah, Mah. Tunggu So Eun ya. So Eun akan datang buat kalian……hikxxx… hikxxxx….”tangis So Eun. So Eun menempelkan pisau ke urat nadinya. Dannnnnn………….
“So Eun!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Jangan lakukan itu!!!”teriak Donghae.
“Untuk apa oppa peduli dengan ku? Aku sudah tidak diharapkan di dunia ini. Aku mau menyusul mama sama papa.”kata So Eun yang ingin membeset urat nadinya, tetapi di tahan oleh Donghae.
“Kau jangan aneh-aneh Kim So Eun.”Donghae melempar pisau yang dipengang So Eun.
“Apa hak mu melarang ku? Memangnya kau siapa? Aku benar-benar membenci mu!!!”So Eun berkata kasar kepada Donghae.
“Kau!!!!!!!!!!!!!!”Donghae menganggak tangannya hendak menampar So Eun. Tapi dia sadar dan menjatuhkan tangannya.
“Kau mau menaparku? Silahkan! Aku tak peduli.”So Eun berlari keluar dan segera tancap gas pergi meninggalkan Donghae.
So Eun kembali kerumahnya yang berada di Seoul. Dia menangis dikamar. Membanting semua barang-barangnya. So Eun menangis tiada henti.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
Tok… tok.. tok…donghae mengetuk pintu kamar So Eun.
“So Eun…”Donghae memanggil So Eun halus.
Tidak terdengar suara apa pun dari kamar. Donghae panic lalu membuka pintu. Dia menghela nafas lega. Dilihatnya So Eun yang duduk menghadap ke jendela. Tatapannya begitu kosong.
“So Eun, ayuk kita pergi jalan-jalan. Hari ini sengaja oppa minta ijin, untuk menemani kamu..”
So Eun tetap diam dan tidak memberikan respon apa-apa. Seperti patung.
“So Eun…”Donghae menguncangkan tubuh So Eun..
“So Eun………..”Donghae memegang bahu So Eun. Tetap sama, tidak ada respon dari So Eun. So Eun seperti sedang tidur. Jiwanya tidak berada dalam tubuhnya.
Donghae mengira bahwa So Eun sedang tidak ingin berbicara dengannya. Donghae pun keluar dari kamar So Eun..
Buk…Bukk…Bukk….Bukk..
“So Eun!!!!!”pangil Donghae keras dan segera berlari kekamar So Eun. Dilihatnya adik semata wayangnya menjetotkan kepalanya ke tembok. Dan darahnya berserakan dimana-mana. Donghae berlari kearah So Eun dan memandangnya. Tatap So Eun tetap kosong. Donghae segera menelpone dokter keluarga mereka. 30 menit kemudian dokter itu datang dan memeriksa So Eun.
“Gimana keadaan adik saya dok?”tanya Donghae panic.
“Luka di kepalanya tidak terlalu parah. Cuman…”
“Cuman apa dok? Hah?”tanya Donghae menguncang-guncangkan tubuh dokter.
“Dia harus segera kamu periksakan ke psikiater.”Dokter itu tertunduk.
“Apa??????? Psikiater? Memang adik saya gila apa dok? Adik saya baik-baik saja!!”mata Donghae terlihat basah.
“Tatapan dia kelihatan aneh. Kau harus segera memeriksakan dia. Ada yang tak beres dengannya.”Dokter itu pun pergi meninggalkan Donghae yang masih menatap lemas So Eun.
===1 jam kemudiann===
“Dokter, bagaimana keadaan adik saya?”tanya Donghae lemas.
“Dari hasil pemeriksaan barusan. Maaf, adik anda mengalami depresi yang cukup parah. Sehingga menyebabkan dia tidak mau bersatu atau kembali dengan dunia ini. Apa sebelumnya dia pernah mencoba sesuatu hal yang sangat berbahaya??”tanya dokter Kang.
“Hmmm. Dia pernah mencoba bunuh diri. Tetapi tidak berhasil. Dan luka dikepalanya akibat dia menjedot-jedotkan kepalanya ke dinding.”kata Donghae lemas.
“Itu sangat berbahaya. Dia ingin sekali berpisah dari dunia ini, meninggalkan dunia ini. Tetapi digagalkan. Sehingga membuat jiwanyalah yang pergi dari tubuhnya. Memisahkan diri sendiri. Dan tidak ingin kembali lagi.”dokter Kang menjelaskannya.
“Tapi dok. Apa kita bisa mengembalikan jiwanya kembali?”tanya Donghae semakin lesu.
“Mungkin bisa. Tapi kemungkinan itu sangat sedikit. Bisa dibilang cuman 15%.”
“Bagaimana caranya?”
“Dia harus menerima perawatan yang lebih teratur. Dan mencoba menghilangkan memory yang jelek, menginggatkan memory yang baik. Hanya itu yang bisa membuat dia berangsur-angsur pulih.”
“Perawatan yang lebih teratur? Tapi aku tidak bisa menjaganya setiap hari.”kata Donghae lesu.
“Itu lah alasan mengapa adanya rumah sakit jiwa ini.”Dokter Kang memandang Donghae yang kelihatan pucat.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
Pilihan terakir Donghae adalah memasukan Kim So Eun kerumah sakit jiwa. Karena pekerjaannya sekarang, dia tak bisa menjaga So Eun setiap hari. Donghae pun juga kenangan terburuk So Eun yang ingin dilupakan. Donghae menghela nafas panjang. Dia pun pergi ke Café Miyosto(café khusus orang-orang dewasa, yang menjual bir dan minuman alcohol lainnya).
Donghae minum tiada henti-hentinya.
“Maaf pak. Tapi bapak sudah meminum hampir sepuluh botol.”pelayan café itu menegur Donghae dengan halus.
“Sudah!!! Cepat berikan aku 1 botol lagi!!! Atau kau tak ku bayar!!”Donghae mengancam pelayan itu. Akirnya pelayan itu memberikan Donghae alcohol. Donghae tak sadarkan diri karena mabuk.
“1 Lemon tea ya.”seorang wanita memesan minuman kepada pelayan.
Wanita itu melihat kearah Donghae.
“Donghae….”panggil Min Ji.
“Heh?”Donghae menoleh lalu tergeletak di meja café.
“Pesanan saya tolong di batalkan ya. Berapa tagihan lelaki ini?”tanya Min Ji pada pelayan tadi. Pelayan tadi pun menyebutkan nominalnya. Min Ji pun segera membayar tagihan itu, dan membopong Donghae menuju mobilnya. Min Ji pun segera mengantarkan Donghae pulang. Sesampainya dirumah Donghae tidak ada orang. Bisa di bilang tidak ada kehidupan di dalam nya.
Ting.. Tong… Ting… Tong..
“Kemana semua orang di rumah ini? Arghhh….”Min Ji yang masih membopong Donghae merasa kesal, karena tidak menemui satu orang pun di rumahnya.
“Donghae….”pangil Pak Woo yang kebetulan ingin memeriksa keadaan Donghae.
Min Ji menoleh.
“Pak, apakah tidak ada orang dirumah ini?”tanya Min Ji halus.
“Oh.. itu, sedang pergi semua.”Pak Woo membantu Min Ji membopong Donghae yang kelihatan sangat berat. Mereka pun segera masuk ke dalam rumah.
“Pak, saya pamit dulu ya.”Min Ji pun segera meninggalkan rumah Donghae dan kembali pulang kerumahnya. Min Ji pun mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya. Waktu sudah menunjukan tengah malam.
“Min Ji, sedang apa kau?”tanya Kim Bum yang ternyata sudah menunggu Min Ji.
“Eh, ada oppa Kim Bum. Hehehe. Aku sedang latihan acting buat drama musical di kampus. Memang ada apa oppa?”tanya Min Ji tegang.
“Latihan drama musical? Dan kau baru pulang jam segini. Kau jangan membohongi ku Min Ji.”Kim Bum kelihatan marah.
“Benar oppa. Aku baru pulang dari…. Latihan…. Iia… latihan… drama musical….. masa oppa gak percaya sih sama Min Ji.”kata Min Ji terbata-bata. Kim Bum mendekat.
“Kau jangan sekali-sekali membohongi ku Min Ji. Kenapa tubuhmu bau alcohol? Hah?”Kim Bum kelihatan marah.
“Itu. Itu. Itu.. tadi.. tadi… aku… a…k…”
“Hah? Kenapa?”muka Kim Bum terlihat merah.
“Aku.. barusan..”Min Ji menginggat kejadian di café tadi. Dia tidak mungkin menceritakan tentang Donghae.
“Cepat naik ke atas. Kau dihukum, tidak boleh keluar kecuali kuliah. Selama 1 minggu!!!!”Min Ji pun menuruti Kim Bum dan segera naik ke kamarnya.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
-1 Bulan kemudian-
“Bum, kau datang ke acara Reuni kita?”tanya Min Ho.
“Maaf Min Ho, aku tak bisa. Kau saja lah yang pergi kesana.”Kim Bum menjawab lemas.
“Mengapa? Apa karena wanita yang bernama Kim So Eun itu?”Kim Bum memang sudah menceritakan kepada Min Ho tentang So Eun. Begitu juga rumah So Eun yang berada di pulau Jeju. Tetapi Kim Bum tidak pernah melihat ada orang yang datang ke rumah itu selama 1 bulan terakir ini.
“Hmm.. aku ingin tau bagaimana keadaannya?”Kim Bum menganguk lemas.
“Sudah lah Bum, kau tak udah memikirkannya. Lagi pula, belum tentu So Eun memikirkan mu kan.”Min Ho membuat Kim Bum kelihatan putus asa.
“Benar kata mu Min Ho.”Kim Bum pun mengambil air di dapur rumahnya.
“Jadi bagaimana? Kau mau ikut tidak ke acara reuni itu? Siapa tau kau bisa bertemu wanita yang lebih cantik dari Kim So Eun.”Min Ho berkata genit.
“Baiklah. Aku hanya menemani mu saja ya.”kata Kim Bum.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
“So Eun, bagaimana keadaan mu?”hari ini tepat sebulan Kim So Eun masuk RSJ Seoul. Tetapi baru hari ini Donghae punya kesempataan untuk menjengguk So Eun setelah pulang dari Jepang kemarin.
So Eun tidak berbicara apa pun, dan tatapannya begitu kosong.
“So Eun…..”Donghae menangis terisak.
“Erhhh… Erhhhhh…”So Eun mengerang.
“So Eun….”Panggil Donghae agak kaget.
“Aku mau mati!!!!! Mau mati!!!! Pergi kalian semua!! Aku benci kalian!!!”So Eun mau menggigit urat nadinya sendiri. Tetapi ditahan oleh Donghae.
“Suster!!!! Dokter!!!!”Donghae berteriak sangat kencang sambil menahan tangan So Eun.
“Auwwwwwwww……”Donghae mengaduh kesakitan, tangannya di gigit oleh So Eun.
Tak lama dokter dan suster datang dan memberikan obat penenang buat So Eun. Donghae memandang sedih kearah So Eun. Sekarang tangan dan kaki So Eun diikat oleh kain. Supaya tidak menyakiti orang lain.
“Donghae, boleh kah kita berbicara sebentar?”tanya Dokter Kang yang menangani So Eun.
Donghae pun berjalan mengikuti dokter Kang.
“Ada apa dok?”tanya Donghae agak lemas.
“Beberapa hari ini kondisi So Eun memburuk. Dia sering beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Kemarin saya berbicara dengan pak Woo. Cuman kata Pak Woo kau sedang berada di Jepang.”Dokter Kang menjelaskan dengan raut muka serius.
“Benar dok. Maaf kan saya.”
“Tidak apa-apa. Lebih baik kalian jangan bertemu dahulu ya. Kondisinya memburuk melihat mu.”dokter Kang menjelaskan dengan hati-hati. Donghae pun mengangguk dan pergi meninggalkan RSJ Seoul.
===Reuni SMA===
“Hai, Kim Bum….”sapa seorang wanita cantik yang berjalan kearah Kim Bum.
“Lee Min Jung?”sapa Kim Bum agak kaget.
“Iya..”mereka pun berpelukan.
“Sudah lama sekali kita tidak bertemu Min Jung. Bagaimana kabarmu? Kau berubah banyak. Rambut mu mengapa sekarang pendek?”tanya Kim Bum berturut-turut.
“Heh. Iya, aku baik-baik saja. Rambutku bagus kan seperti ini. Oh ya, mana Min Ho.”Min Jung menlihat sekelilingnya.
“Tadi dia ingin ke kamar mandi. Aku tak tau di mana. Oh ya Min Jung. Dari tadi aku tidak melihat pacar mu?”tanya Min Ho penasaran.
“Pacar ku? Siapa? Jangan-jangan. Yang kau maksud…”
“Hahahahahaha..”Kim Bum hanya tertawa.
“Sudah deh jangan meledek aku terus. Aku mau liat saudara ku ya. Bye.. Bye..”Min Jung pun pergi meninggalkan Kim Bum sendiri.
+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+_+
“Hai…”sapa Min Ho pada sekerumun wanita-wanita yang berada di sekitarnya.
Mereka hanya tersenyum masam melihat Min Ho yang sedang tebar pesona.
Min Ho berjalan mundur sambil memegang gelas berisi sirup. Waktu Min Ho berbalik.
GYUURRRRRRRRRRR…
“Arggghhh…”teriak seorang wanita cantik yang mngenakan pakaian berwarna putih panjang.
“Maaf…”Min Ho memandang baju wanita itu yang sekarang menjadi warna merah akibar ulah nya.
“Kau!!!!!”kata mereka bersamaan.
“Apa sih mau mu? Selalu saja merusak semuanya. Pertama merusak laptop ku, sekarang membuat baju ku kotor.”wanita itu pun berbalik arah tanpa di sadari Min Ho, karena seseorang memanggilnya.
“Haaaaaaaaaaiiii. Min Ho…”teriak Min Jung.
Min Ho menoleh kaget dan melihat Mih Ho. Begitu juga dengan wanita tadi.
“Min Jung???”Min Ho tak kalah kaget.
“Kau sudah lama di sini?”tanya Min Jung menatap Min Ho.
“Oh, sudah. Kau sendiri?”tanya Min Ho.
“Lumayan lah.”Min Jung melihat Min Ho yang ke panic an seperti mencari sesuatu yang hilang.
“Ada apa sih Min Ho?”tanya Min Jung penasaran sambil mengikuti pandangan Min Ho.
“Oh tidak. Min Jung kau kesini dengan siapa? Mana pacar mu?”tanya Min Ho.
“Aku bersama saudara ku. Pacar ku? Mengapa sejak tadi kau dan Kim Bum menanyakan ‘mana pacar mu?’ memangnya aku sudah punya pacar apa? Huh…”
“Hahaha. Memangnya bagaimana nasib kalian setelah lulus ?”tanya Min Ho agak penasaran.
“Nasib apanya? Sudah deh. Aku mau mencari saudara ku dulu ya. Bye Min Ho.”Min Jung pun meninggalkan Min Ho yang masih mencari wanita yang tadi dia tabrak.
+_+_+_+_+_
=2 Bulan kemudian=
“Min Ho, hari ini aku mau ke RSJ Seoul.”Kim Bum menelephone Min Ho.
“Oh, ya sudah. Jam berapa kau pulang?”
“Aku tidak tahu. Sudah dulu ya.”Kim Bum menutup sambungan telephone nya dan mengambil saxophone lalu memasukan ke dalam mobil.
Hari ini Kim Bum pergi sendiri karena Min Ji tidak bisa datang. Biasanya memang Kim Bum setiap sebulan sekali selalu melakukan ini. Walaupun tak tau akan berhasil atau tidak. Tapi terapi ini sering dia lakukan. Menginggat mamanya sangat menyukai suara saxophone.
Sesampainya Kim Bum disana.
Ternyata mamanya berada di taman.
Kim Bum pun menuju taman itu dan megeluarkan saxophone dari kotaknya.
“Hai Mah. Apa kabar?”Kim Bum mencium kening mama nya.
Tatapan mama Kim Bum tetap kosong.
“Kim Bum mainin lagu kesukaan mama ya.”Kim Bum memain kan saxsophone nya.
Lagu Don’t Walk Away terdengar sangat bagus di mainkan oleh Kim Bum.
Lagu Don’t Walk Away memang tidak seperti lagu mellow lainnya. Mama Kim Bum sangat menggemari Rick Springfield penyanyinya yang in di tahun 80 an.
Kim Bum melihat mama nya yang masih menatap kosong tanaman yang berada di dekat taman.
Kim Bum pun kembali memainkan lagu First Love. Lagu yang sebenarnya tidak ingin dia mainkan dari dulu. Tetapi ada sesuatu yang kuat, yang medorongnya untuk memainkan lagu itu.
Setelah selesai terlihat jelas air mata Kim Bum.
“Arrrrghhhh…. Arrrgghhhh…”terdengar suara jeritan yang sangat keras dari belakang pohon.
Kim Bum segera melihat kearah pohon itu. Tetapi sudah banyak dokter dan suster yang membantu orang itu.
Kim Bum pun tetap terfocus pada mama nya.
Terlihat cuaca yang mendung. Kim Bum pun memapah mamanya ke kamar. Sesampainya di sana mama nya duduk dan memandang Kim Bum. Seolah mengerti Kim Bum mengambil saxophone dan mengulangi alunan lagu First Love. Batin Kim Bum tidak mengerti mengapa dia ingin memainkan lagu itu kembali. Setelah selesai sekarang terdengar jeritan kembali dari kamar sebelah. Kim Bum yang penasaran langsung berlari menuju kamar sebelah. Dan dia tak menyangka bahwa………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Orang selama ini dia cari berada tepat sebelah kamar mamanya di RSJ Seoul.
“So Eun……”panggil Kim Bum kaget saxophone yang dia pegang jatuh.
Gimana? Maaf ya kalau cerita Soeulnya belum banyak.
Kenapa ya Kim So Eun teriak-teriak denger suara saxophonenya Kim Bum?
Terus kenapa juga Kim Bum awalnya gak mau mainin Saxophone? Sebenarnya ada apa ya?
Cewek yang ditabrak Min Ho siapa sih? Kok belum dikasih tau.
Pacarnya Min Jung yang di maksud Kim Bum dan Lee Min Ho maksudnya siapa?
Saksikan next partnya.
Di tunggu commentnya^^
Makasih udah mau baca^^
Comant'y bagus ajja lah...
BalasHapusi like it..!!
:)